Makassar, Upeks— Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Setjen Kementerian Agama berharap ada pemerintah daerah atau Forum Kerukunan Umat Bergama(FKUB) kabupaten/kota di Sulawesi Selatan meraih Harmony Award 2025 yang saat ini sudah berjalan sejak kick Off, Selasa pekan lalu.

Hal tersebut Kepala PKUB Kemenag RI H. Muhammad Adib Abdushomad, M.Ag., M.Ed, Ph.D, saat memberi pengarahan dalam Dialog Lintas Agama bertema Pemuda Lintas Agama Bersinergi, Berdampak, Saling Mengispirasi untuk Kerukunan Umat Beragama demi NKRI, oleh Lembaga dan Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kanwil Sulsel di Hotel Claro Makassar, Rabu (1/10/2025).
Dikatakan Harmony Award merupakan bentuk apresiasi sekaligus penguatan bagi pemerintah daerah dan tokoh agama dari FKUB yang konsisten merawat kerukunan.
“Harmony Award sudah mulai jalan, pemimpin dianggap peduli atau memberi perhatian terhadap kerukunan umat beragama, sekaligus FKUB kabupaten/kota dan provinsi atau Kepala daerah bisa diberi apresiasi,” ujarnya.
“Saya berharap di Sulawesi Selatan ini, kabupatennya harus ada mendapat (penghargaan) Kemeneterian agama sudah beriktiar memberikan Harmony Award,” imbuhnya.
Lebih lanjut dikatakan Adib Abdushomad, Setiap diri manusia punya pengalaman melakukan penguatan kerukunan beragama di daerahnya masing-masing. Kehadiran peserta dialog dapat memperkaya mempertajam bagaimana kerukunan umat beragama.
“Yang penting kita ketahui rukun dan damai itu adalah sesuatu yang kita inginkan. Kita harus berbetul-betul merasa mensyukuri kenikmatan kemerdekaan. Keberagaman itu menjadi sunnatullah dan menjadi luar biasa,” terangnya.
Pada bagian disebutkan, belum lama ini Kemenag meluncurkan sistem Early Warning System (EWS) bernama SI-RUKUN guna mendeteksi dan merespons potensi konflik berbasis keagamaan, etnis, dan sosial kemasyarakatan di seluruh Indonesia.
“Sistem ini bagian dari ikhtiar untuk mendeteksi potensi-potensi konflik, bisa dicegah sebelum bereskalasi, tugas kita memperbanyak ruang-ruang perjumpaan, tapi yang tidak kalah penting mencegahnya,” tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Dr H Ali Yafid, menyampaikan kegiatan yang dilaksanakan saat ini berkaitan dengan tiga dari Asta Protas yang digagas Menag Prof. KH Nasaruddin Umar.
Yakni meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan. Dimana peningkatan kualitas kerukunan, penguatan moderasi beragama pengembangan dan insersi kurikulum berbasis cinta kemanusiaan dan penghargaan terhadap perbedaan. Pemberdayaan dan pemeliharaan rumah ibadah terus dilakukan, diiringi penguatan pembinaan umat.
Kedua, penguatan ekoteologi, berangkat dari pemahaman dan kesadaran keagamaan akan pentingnya merawat bumi melalui lembaga pendidikan agama dan lembaga keagamaan.
Ketiga, layanan keagamaan berdampak. Kemenag harus hadir di setiap problem keagamaan umat.
“Sebenar jauh sebelumnya, Kementerian Agama Sulsel melakukan action dengan program Asta Aksi,” ucapnya.
Diantara tiga program yang berkaitan dengan Protas Kemenag, yakni Selebrasi Kerukunan. Program adalah komitmen untuk memperkuat persatuan dan harmoni di tengah keberagaman. Selebrasi Kerukunan mencerminkan semangat kebersamaan dalam membangun masyarakat yang rukun, damai, dan saling mendukung.
Berikutnya, Algoritma Kasih Sayang Bagi Generasi Z. Yakni menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan keadaban digital pada generasi muda di era teknologi. Peduli terhadap sesama, dan menjunjung tinggi moralitas.
Kemudian, Dakwah Ramah Kemanusiaan. Programnya mengedepankan pendekatan dakwah yang inklusif, penuh kasih, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Melalui pesan-pesan agama yang menekankan empati, toleransi, dan solidaritas, program ini hadir untuk merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.
“Itu yang langsung bersentuhan dengan aktor-aktor kerukunan umat beragama, termasuk rumah ibadah ramah difabel. Ini sudah ada terlaksana di beberapa kabupaten/kota.
Yang menarik itu adalah algoritma kasih sayang, karena kita sudah melibatkan anak-anak sekolah lintas agama. Kita pertemukan di beberapa tempat di kantor wilayah,” jelasnya.
Ketua Panitia Dialog Lintas Agama, Paulus Tasik Galle, menjelaskan, tujuan kegiatan ini memperkuat kesadaran tentang betapa pentingnya terus menerus merawat dan memelihara keragaman serta kemajemukan sebagai kekayaan dan modal sosial hidup berbangsa dan bernegara. “Para pemuda memegang peran dan fungsi strategis dalam terus menghidupkan dan mewariskan kesadaran tersebut,” ucapnya.
Hadir sebagai nara sumber yakni Warisan S.Ag, M.Si, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat ISNU, Muhammad Makmun Rasyid, S.Ud., M.Ag, Pengurus Harian Badan Penanggulangan Ekstrimisme dan Terorisme MUI Pusat, Pdt. Bertha Patu, M.Th., Pendeta Jemaat Gereja Toraja Tallo Makassar.
Sekretaris PW ISNU Sulsel, Dr. Mulyadi, keteribatan organisnya dalam dialog ini bukanlah sekadar partisipasi, melainkan penegasan akan peran strategis kaum intelektual Nahdlatul Ulama dalam merawat kemajemukan bangsa.
“Sebagai lembagai otonom NU, ISNU membawa serta khazanah pemikiran moderat, inklusif, dan berpijak pada nilai-nilai kebangsaan yang selama ini menjadi ciri khas kaum nahdliyyin,” ucapnya.
“Kehadiran rekan-rekan ISNU dalam dialog lintas agama kali ini, tidak semata sebagai peserta, melainkan penyuara gagasan, sekaligus jembatan penghubung antara berbagai elemen masyarakat, termasuk lintas agama di Makassar dan sekitarnya,” tandasnya. (rls)

