Tawuran Antarwarga di Kecamatan Tallo Seakan Menjadi Tradisi, Terjadi Sejak 36 Tahun Silam

Tawuran Antarwarga di Kecamatan Tallo Seakan Menjadi Tradisi, Terjadi Sejak 36 Tahun Silam

MAKASSAR, UPEKS.co.id – Tawuran antarwarga di Kecamatan Tallo seakan tidak ada habisnya. Bahkan terlihat menjadi tradisi aksi tawuran tersebut. Dalam kurung waktu empat hari terkahir ini, perkelahian kelompok di wilayah itu sering terjadi.

Bahkan, dalam sehari aksi tawuran menggunakan batu, busur dan bom molotov itu, terjadi dua sampai tiga kali. Penyebabnya pun belum diketahui hingga saat ini. Namun aksi saling menyakiti itu, sudah terjadi sejak 36 tahun lalu.

Bacaan Lainnya

Tawuran antarwarga yang telah berakar sejak tahun 1989 kini kembali mencuat, mengusik keamanan, mengancam nyawa, dan memperlihatkan potret suram dari konflik yang tak kunjung usai.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menceritakan bagaimana selama empat hari berturut-turut, aksi tawuran pecah di waktu-waktu tak terduga pagi, sore, bahkan dini hari.

Ia dan anggotanya sampai harus melaksanakan salat subuh di salah satu masjid yang kerap menjadi titik awal konflik. Anggota bahkan menggunakan pengeras suara masjid mengimbau warga sebagai bentuk pendekatan spiritual sekaligus strategi kehadiran polisi.

“Kami sudah mengimbau lewat pengeras suara agar konflik diselesaikan secara baik. Tapi Senin malamnya, mereka main lagi. Ini seperti siklus yang tidak berhenti,” ujarnya.

Yang mengejutkan lanjut Arya, para pelaku ternyata bukan orang dewasa. Anak-anak usia 12 hingga 14 tahun menjadi pemain utama dalam perang jalanan ini. Lebih dari sekadar lempar batu, mereka menggunakan panah busur, bom molotov, bahkan senapan angin.

“Ini mengenaskan sekali. Kami menemukan korban tertusuk mata, ada yang kena leher. Semua masih di bawah umur, “ucap Arya saat ditemui di Mapolrestabes Makassar, Selasa (23/9/2025).

Konflik antarwarga di kawasan itu bukan hal baru. Sejak akhir 80-an, dendam lama diwariskan dari generasi ke generasi, berubah menjadi konflik horizontal yang sulit diputus. Kini, kekerasan itu menemukan wajah baru. Anak-anak yang belum cukup umur, diduga dimobilisasi oleh pihak-pihak yang lebih besar.

“Tidak mungkin anak-anak bisa beli petasan seharga Rp1 juta satuannya. Kalau bisa menembakkan 20 kali dalam sehari, itu sudah Rp20 juta. Ada yang mendanai, ini sedang kami telusuri,” ungkap Kapolrestabes.

Pihak kepolisian saat ini tengah menyelidiki adanya aktor intelektual yang sengaja mendorong kerusuhan untuk menciptakan situasi chaos. Bahkan dugaan keterlibatan narkoba pun muncul, dan kini menjadi fokus penyelidikan Satnarkoba.

“Ini sementara didalami Kasat Narkoba, jadi Kasat Narkoba sudah mengerahkan anggota ke sana. Kalau misal kemudian ada barang (narkoba) yang masuk dan dialihkan ke masalah tawuran, mudah mudahan bisa terungkap,” harapnya.

Diketahui, tawuran yang terjadi di wilayah Kecamatan Tallo itu selain menimbulkan korban, ada dua motor dibakar. Selain itu, ada juga gerobak jualan ikut dirusak warga.(Jay)