Terkendala Hujan, Pemantauan Hilal di Makassar Sesuai Kriteria

Terkendala Hujan, Pemantauan Hilal di Makassar Sesuai Kriteria

Makassar, Upeks– Pemantauan kondisi hilal atau fase bulan baru buat menentukan 1 Syawal 1445 Hijriah di Kota Makassar terkendala akibat hujan deras di Makassar, Selasa (9/4/2024).

Kementerian Agama Sulsel bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah 4 Makassar melakukan pemantauan di  Observatorium Lt. 18, Menara Iqra Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Bacaan Lainnya

“Kondisi hujan atau mendung ini merupakan kendala. Kalau seperti ini teropong sulit menembus awan karena tebal,” kata  Jamroni, Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar.

Meski demikian, kriteria untuk melakukan pemantauan hilal pada hari ini sudah sesuai dan bisa diamati.

“Tapi untuk kriteria semuanya, maksudnya dari segi tinggi derajatnya, sudah terpenuhi. Elongasi sudah terpenuhi, kemungkinan memang hari ini bisa diamati. Karena masa pengamatan dengan tinggi Bulan sekitar 5 derajat lebih, itu memakan waktu pengamatan kurang lebih 27 menit itu cukup lama,” ungkapnya.

Disebutkan waktu pengamatan yang cukup panjang itu didapat lantaran Matahari terbenam pada pukul 18.04 WITA dan waktu terbenam Bulan 18.32 WITA. 

Pihak Universitas Muhammadiyah Makassar menyiapkan dua unit DOOM yang merupakan kubah pemantau benda langit.

Terpisah, Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, H. Muhammad Tonang yang turut hadir bersama sejumlah Kepala Bidang dalam pemantauan hilal ini mengatakan Kemenag memfasilitasi penetapan 1 Syawal dengan menggunakan dua metode yaitu hisab dan rukyat.Terkendala Hujan, Pemantauan Hilal di Makassar Sesuai Kriteria

Lanjut dikatakan, meskipun Pemerintah dan Muhammadiyah memulai Ramadan dengan jadwal yang berbeda, namun kemungkinan Idul Fitri 1 Syawal 1445 H akan jatuh pada hari yang sama.

“Kami ingin kebersamaan seperti ini tetap terjaga,” harap Kakanwil Muh. Tonang.

 

Sementara anggota Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama Cecep Nurwendaya menyebut posisi hilal awal Syawal 1445 H di seluruh wilayah Indonesia berada di antara 4° 52‘ 43“ sampai dengan 7° 37‘ 50“, dan elongasi antara 8° 23‘ 41“ sampai 10° 12‘ 56“.

Berdasarkan data tersebut, maka menurut Cecep, posisi hilal sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) sehingga diprediksi dapat dilihat. Hal ini disampaikan Cecep saat memaparkan posisi hilal jelang Sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1445 H/2024 M di Gedung Kemenag Jl MH Thamrin Jakarta.

“Dari data tersebut, hilal kemungkinan dapat dirukyat pada hari ini, karena tinggi hilal seluruh wilayah Indonesia sudah memenuhi kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat menurut kriteria MABIMS,” ungkap Cecep, Selasa (9/4/2024).

Hadir dalam seminar pemaparan posisi hilal, Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki, Ketua Komisi VIII DPR RI Ashabul Kahfi, Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Ketua MUI Asrorun Ni’am Sholeh, para Staf Khusus Menag, para Staf Ahli dan Tenaga Ahli Menag, para pejabat eselon I dan II Kemenag, serta perwakilan Kedutaan Besar negara sahabat.

Lebih lanjut Cecep Nurwendaya menjelaskan, negara-negara anggota MABIMS telah merumuskan kriteria baru visibilitas hilal, yaitu ketinggian hilal minimal 3° dengan sudut elongasi 6,4°. ,”Kriteria itu diputuskan pada 8 Desember 2021 dan telah diterapkan di Indonesia pada awal Ramadan 1443 H/2022 M,” ungkap pakar astronomi tersebut.

Meski begitu, Cecep menjelaskan, sebelum menetapkan 1 Syawal, pemerintah perlu melihat hasil pengamatan langsung (rukyatul hilal) untuk mengonfirmasi hasil hisab.

Tahun ini, Kemenag menetapkan 127 titik lokasi rukyatul hilal awal Syawal 1445 Hijriah. Data rukyatul hilal ini selanjutnya menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat (penetapan) 1 Syawal 1445 Hijriah. (*)