
Makassar, Upeks–Dua kloter jemaah haji Embarkasi Makassar masing-masing 34 dan 37 harus mendarat Bandara Madinah.
Kedua kloter yang tergabung dalam gelombang II kembali ke Madinah seperti jemaah gelombang I sebelumnya yang mendarat di Madinah.
Informasi yang diperoleh di Asrama Haji Sudiang Makassar, Jumat (16/6/2023), jemaah kloter 34 asal Maluku dan kloter 37 asal Sulawesi Barat menggunakan pesawat jemaah tambahan dari Kloter 42 dan 43.
Kepala Bidang Penyelenggara Haji (PHU) Kanwil Kemenag H Ikbal Ismail membenarkan informasi tersebut. “Karena slot time sudah full di (bandara) Jeddah,” ujarnya dari Mekkah.
Kepala Sektor III Mekkah ini mengungkapkan, setelah mendarat di Bandara Madinah kedua kloter ini rencana akan diboyong menginap sehari di hotel dekat Masjid Nabawi.
Selanjutnya, akan melakukan proses seperti jemaah haji gelombang I yang mendarat Bandara Madinah menuju Bir Ali mengambil miqat kemudian masuk Kota Mekkah melaksanakan umrah wajib.
Sebelumnya, Jemaah haji Embarkasi Makassar hanya terbagi 41 kloter, setelah penambahan kuota jumlah jemaah ikut bertambah lebih dua kloter, yakni kloter 42, 43, dan kloter 44 yang bakal digabung dengan jemaah dari embarkasi lain.
Kloter 34 rencananya take off, Pukul 01.05 Wita, diperkirakan tiba di Madinah, Sabtu (17/6/2023), pukul 09.15 WAS. Sedangkan Kloter 37 yang masuk Sabtu (17/6/2023), pukul 10.00 Wita, dijadwalkan tinggalkan asrama, Ahad (18/6/2023), pukul 11.25 Wita.
Nomor flight Kloter 42 dan 43 masing-masing GA 1140 dan GA 1141. Sedangkan kloter 34 dan 37 menggunakan GA 1142 dan GA 1143.
Jemaah Kloter 42 berasal dari Sulawesi Tenggara 147 orang, Maluku Utara (91), Gowa (58), Papua Barat (37), Enrekang (28), Maros (20), Toraja Utara (4) dan Bulukumba (3).
Sedangkan kloter 43 berasal dari Sulawesi Barat (117), Pinrang (55), Sidrap (51), Soppeng (48), Bone (33), Luwu Utara (31), Luwu (23), Palopo (14), Selayar (9), dan Takalar (7).
Seorang jemaah asal Kabupaten Buru Selatan Provinsi Maluku yang tergabung dalam kloter 34 Sakina Binti Mahmudin mengaku tidak mempermasalahkannya. “Justru bagus persiapannya, bisa lebih khusu,” ujarnya.
Jemaah di kloter ini menggunakan pakaian biasa yakni batik nasional untuk proses pemberangkatan, bukan pakaian ihram seperti kebanyakan pemberangkatan gelombang II. (*)

