Memetik Hikmah dari Perjalanan Umrah Bersama JNE

Memetik Hikmah dari Perjalanan Umrah Bersama JNE

Menyusuri Jejak Para Nabi di Museum Al Wahyu (1)

Terletak di distrik Jabal Al Noor, sekitar 4 KM timur laut Masjidil Haram Mekah, destinasi terbaru Kota Mekkah, yakni Museum Al Wahyu, hadir memperkenalkan sejarah dan warisan misi para nabi. Berada tepat di kaki Gunung (Jabal) Al Noor, pengunjung disuguhi sensasi jejak para nabi dari masa pra-Islam hingga hadirnya Islam melalui presentasi dengan teknologi canggih.

Bacaan Lainnya

LAPORAN : SUKAWATI

Rombongan jamaah Umrah JNE-Anamta, menjadi jamaah yang berada di deretan pertama merasakan sensasi Gua Hira-Jabal Al Noor di museum yang baru dibuka untuk umum sekitar lima pekan lalu tersebut. Jamaah yang berjumlah 35 orang tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Tak henti-hentinya mengucap syukur atas pengalaman menyusuri Jabal Noor dan Gua Hira melalui museum.

“Sejatinya masih belum launching. Masih ada pembangunan untuk menyempurnakan museum ini agar pengunjung lebih nyaman dan mendapatkan banyak pelajaran terkait Wahyu Allah Swt. Nanti kalau sudah grand launching, insyaAllah saya beri kabar,” ungkap Hamdani, pemandu berbahasa Indonesia yang bertugas di Museum Wahyu.

Memasuki halaman museum, pengunjung langsung disuguhi sketsa dan lukisan perjalanan Kota Makkah dari zaman ke zaman. Galeri foto dan lukisan ini berlanjut hingga gedung museum Al Wahyu.

Belum hilang rasa takjub melihat sejarah perkembangan Kakbah dan Mekkah, pengunjung seketika terhenyak saat pemandu museum mengajak memasuki bagian gedung berupa ‘Lorong Gua’ bebatuan guna mengikuti perjalanan turunnya wahyu di bumi ini melalui para nabi.

“Selamat datang di Museum Al Wahyu, di sini kami akan mengajak Bapak Ibu untuk mengikuti perjalanan dunia ini, dari sebelum turunnya wahyu, turunnya manusia pertama, Adam, hingga seterusnya wahyu terakhir kepada Nabi Muhammad SAW,” ujar Muh Abdillah Januadi Putra, melakukan presentasi tingkat lanjut kepada pengunjung.

Perjalanan mengikuti jejak wahyu dimulai. Pandangan tertuju di sisi gua yang dilengkapi Indoor LED Video Wall dengan sound yang dahsyat. Dengan media teknologi ini jejak para Nabi dipresentasikan dengan berbahasa Arab yang disertai teks berbahasa Inggris. Jamaah perempuan di sebelah kanan menghadap dinding gua sebelah kiri dan sebaliknya, di sisi gua lainnya, jamaah laki-laki menyaksikan video di dinding gua sebelah kiri.

Di sini, pengunjung menyaksikan ‘Adam, The First Men’. Menunjukkan bagaimana Nabi Adam AS, sangat kebingungan tidak tahu harus bagaimana. “Maka, diturunkanlah wahyu untuk memberi petunjuk sesuai dengan kebutuhan manusia,” jelas Abdillah, di akhir sesi perjalanan Nabi Adam AS.

Perjalanan berlanjut, pada Indoor LED Video Wall berikutnya, dikisahkan, hingga 10 turunan Nabi Adam, mulai muncul masalah pada manusia, angkara murka terjadi dimana-mana, maka turunlah wahyu (petunjuk) kepada Nabi Nuh AS untuk membawa manusia kembali ke jalan yang benar sesuai petunjuk. Namun, kembali dalam perjalanan umat manusia kembali membelok dan lari dari ajaran. Setelah kapal Nabi Nuh AS tenggelam dan atas izin Allah SWT hanya sebagian kaum yang diselamatkan, sesuai petunjuk, maka manusia disebar ke seluruh dunia. Hadirlah Nabi Ibrahim AS di Irak, Nabi Isa AS di Israel.

Melangkah ke ruang gua yang lebih luas berikutnya, perjalanan kisah pun berlanjut. Melalui Indoor LED Video Wall yang ukurannya 3 kali lebih luas dibanding wall sebelumnya, dikisahkan, sejak turunnya Wahyu kepada Nabi Isa AS, wahyu berhenti selama 600 tahun atau enam abad lamanya. Namun, lagi-lagi, manusia kembali berada dalam kejahiliyahan, manusia bermaksiat, dan lain sebagainya di atas muka bumi.

Maka, turunlah wahyu kepada Nabi Muhammad SAW di Jabal Noor, di sebuah gua, yang bernama Gua Hira. Jabal Noor (Gunung Cahaya) yang mengacu pada cahaya yang memancar ke seluruh bumi setelah ayat pertama Al Qur’an, ‘Bacalah dengan nama dari Tuhanmu yang menciptakan’.

Wahyu Al Qur’an turun selama 23 tahun, 13 tahun di Makkah, dan 10 tahun di Madinah. Begitulah Al Qur’an turun sebagai petunjuk dan ajaran wahyu yang universal. “Walau Al Qur’an berbahasa Arab, tapi ajaran wahyu dan petunjuk di dalamnya universal untuk seluruh negeri. Wahyu yang menjaga nilai, akhlakul karimah, kemanusiaan, hak asasi manusia, berbakti kepada orang tua, silaturahim. Maka saat ini kita di atas jalan lurus, tetap berjalan sesuai ajaran nilai dan petunjuk wahyu,” tutur mahasiswa Umm Al-Qura University Makkah ini, kepada jamaah umrah yang merupakan karyawan pilihan JNE.

Proyek budaya yang dibangun Samaya Investment Co ini, di akhir presentasi mengajak para pengunjung untuk memasuk ruang yang persis sama dengan bentuk Gua Hira, baik dari bentuk bebatuan, hingga ukuran batu. Gua hira ini dibuat di dua tempat, untuk memisahkan jamaah laki-laki dan perempuan merasakan langsung sensasi Gua Hira, tempat dimana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk pertama kalinya tersebut.

“Terima kasih JNE dan Anamta yang sudah memberi bonus ke Museum Wahyu, jadi tidak usah menanjak ke Gua Hiro,” ucap Mahesa Senggani, yang telah 14 tahun terakhir menjadi bagian dan keluarga besar JNE.

Tempat ini berada di bawah pengawasan langsung Komisi Kerajaan untuk Kota Makkah dan Tempat Suci. “Distrik Budaya ini dibangun di atas lahan seluas lebih dari 67.000 meter persegi. InsyaAllah ke depan juga akan dibangun kereta gantung ke Gua Hira. Jadi, nanti tidak perlu 2 jam hanya untuk naik dan turun Jabal Noor, insyaAllah,” tandas Abdillah. (suk/bersambung)