Diduga Aniaya Muridnya, Kepala Sekolah Dilapor ke Polisi

  • Whatsapp
Diduga Aniaya Muridnya, Kepala Sekolah Dilapor ke Polisi

Barru,Upeks.co.id— Kepala Sekolah SDN 13 Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel) berinisial KL dilaporkan orang tua siswa ke polisi atas dugaan penganiayaan kepada murid sekolah.

Orang tua korban yang melapor mengaku jika anaknya telah ditampar oleh KL atas tuduhan mencuri nasi kuning.

Bacaan Lainnya

“Saya sudah melaporkan Kepsek yang bersangkutan ke Polres Barru. Anak saya ditampar, diludahi dan dibilangi mencuri. Jelas saya tidak terima,” ungkap orang tua siswa, Aksan Gani kepada polisi.

Laporan Aksan ke Polres Barru terdaftar dengan nomor pengaduan: TBL/54/V/2022/RESKRIM. Dalam laporan itu terlihat jika kejadian penganiayaan terjadi pada Selasa (17/5) lalu di kantin SDN 13 Barru.

“Kejadiannya sekitar seminggu yang lalu tetapi baru saya tahu Selasa (24/5) malam. Besoknya hari Rabu (25/5) saya mendatangi sekolah dan melanjutkan melapor di Polres Barru,” bebernya.

Aksan menguraikan, berdasarkan keterangan anaknya, Kepsek berinisial KL juga mengelola kantin sekolah. Saat kejadian anaknya hendak meminta uang kembalian.

Bukannya mendapat uang kembalian, anak Aksan malah dituduh belum membayar nasi kuning. Pada saat inilah KL kemudian menggeledah si anak, yang kemudian meludahi dan mencekiknya.

“Saya sempat konfirmasi ke Kepsek. Dia bilang dia obati anakku makanya dia ludahi. Semacam jampi-jampi. Intinya dia mengelak, jadi saya bilang biar saya lapor polisi saja kalau begitu,” tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Barru, Mas’ud menyampaikan pihaknya telah mendengar kedua belah pihak atas kasus dugaan penganiayaan siswa. Ia menyayangkan orang tua siswa tetap mau melapor ke kepolisian.

“Kami tentu terus masih berupaya agar melakukan mediasi supaya bisa berdamai. Kalau laporan yang kami terima ini ada kesalahpahaman,” jelasnya.

Mas’ud menjelaskan, berdasarkan pengakuan Kepsek SDN 13 Barru, ia hanya mengelus pipi siswa dan jampi-jampi ke kepalanya. Berbeda dengan pengakuan orangtua siswa.

“Jadi pengakuan Kepsek yang bersangkutan, ia hanya sedang jampi-jampi itu siswa karena menangis terus,” jelasnya. (Ama)