Makassar, Upeks.co.id–Air bersih adalah kebutuhan utama demi keberlangsungan hidup manusia. Namun demikian hingga saat ini masih terdapat masyarakat yang mengalami kekurangan air bersih. Air bersih dapat berasal dari berbagai sumber. Salah satu diantaranya adalah dari air hujan. Namun demikian, masih sangat sedikit masyarakat yang memahami cara memanfaatkan air hujan terutama ketika musim hujan tiba. Pemanfaatan air hujan sebagai alternatif sumber air pada saat musim hujan dapat mengurangi pengambilan air tanah maupun penggunaan air bersih yang berasal dari instalasi pengolahan air (IPA) air baku yang umumnya ditangani oleh perusahaan daerah air minum (PDAM).
Kabupaten Gowa merupakan salah satu daerah penghasil buah yang berasal dari perkebunan. Petani di kabupaten Gowa, khususnya pada Kecamatan Bonto Marannu dan Kecamatan Parangloe merupakan penghasil buah rambutan yang manis dan segar. Lokasi areal perkebunan petani umumnya jauh dari rumah sehingga mereka senantiasa membawa bekal ke rumah kebun yang mereka bangun. Petani kebun dominan membawa bekal berupa air minum dan makanan yang telah jadi. Hal yang sama terjadi pada masyarakat petani kebun di Desa Romang Loe Kecamatan Bonto Marannu.
Rumah kebun yan dibangun meskipun cukup sederhan, namun dapat menjadi tempat beristirahat yang nyaman dari terik panas matahari maupun hujan. Ketika hujan turun, airnya mereka tampung di dalam wadah bekas seperti ember maupun panci untuk sekedar bahan baku air minum. Wadah yang kecil tersebut hanya cukup untuk kebutuhan memasak dan tidak mencukupi untuk kebutuhan buang air kecil dan apalagi untuk keperluan buang air besar.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdi dari Universitas Negeri Makassar yang terdiri dari Akshari Tahir Lopa, Anas Arfandi, dan Irma Aswani Ahmad mendesain metode pemanenen air hujan agar mencukupi untuk kebutuhan air bersih petani kebun pada saat mereka berada di kebun. Sebagai dosen yang berlatar belakang Teknik sipil, mereka memulai kegiatan mereka dengan menghitung sumber air bersih dari hujan yang turun, jumlah kebutuhan air petani, serta volume daya tampung air yang akan dibuat.
Kegiatan ini mulai dilaksanakan sejak bulan Mei 2021 hingga Oktober 2021. Berdasarkan hitungan curah hujan yang terjadi, diperoleh data bahwa besarnya intensitas hujan yang dapat terjadi dengan periode ulang 5 tahunan adalah sebesar 30,644 mm/jam. Selanjutnya besarnya debit air yang dapat diperoleh dengan luas atap 27 m2 dan beberapa koefisien yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan dengan lama hujan selama 40 menit, maka air hujan yang dapat dipanen adalah sebanyak 398 liter.
Selanjutnya tim menghitung kebutuhan air petani untuk satu rumah kebun, dengan asumsi 4 orang yang beraktifitas maka kebutuhan air mereka adalah 120 liter/hari. Dengan demikian, maka jika terjadi hujan dalam sehari selama 40 menit maka air yang ditampung dapat digunakan lebih dari 3 hari.
Dengan perkiraan debit air dalam sehari sebesar 398 liter, maka volume bak penampungan air harus melebihi target volume yang telah dihitung. Untuk itu, tim pengabdi mendesain pembuatan bak penampungan dari gorong-gorong beton. Dua buah gorong-gorong dengan diameter 1 m dan tinggi 0,5 m disusun secara vertikal. Dengan demikian, volume tampungan air sebanyak 0,785 m3 atau sebanyak 785 liter. Bak penampungan air dapat penuh menampung air ketika hujan terjadi selama 80 menit dalam sehari, lalu kemudian air tersebut dapat digunakan oleh petani selama sepekan jika sekiranya hujan hanya terjadi selama sehari.
Menanggapi analisa dan contoh pemanenen air hujan yang dilakukan pada lahan milik Dg. Muang di dusun Samaya, beberapa petani kebun yang turut serta mengikuti proses pelatihan dan pendampingan PKM menyatakan bahwa selama ini air hujan hanya terpakai untuk lahan perkebunan saja, terutama pada pohon rambutan yang memang membutuhkan cukup banyak air. Namun dengan adanya contoh yang telah dibuat, selanjutnya ia akan membuat hal yang sama di lahan perkebunan milik mereka.
Ketua LP2M UNM Bakhrani Rauf menyatakan bahwa kegiatan PKM tim pengabdi ini merupakan solusi kreatif bagi petani kebun. Sebagai guru besar dalam bidang lingkungan Ia juga sangat mengapresiasi kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik ditengah kondisi pandemi. Hal ini sejalan pula dengan pesan Rektor UNM yang senantiasa mendorong pada dosen dan pegawai agar tidak pasif berkarya meskipun kondisi pandemi masih terjadi. Inovasi dan kreatifitas harus terus ditingkatkan terutama bagi dosen sebagai pelaksana tridharma perguruan tinggi.(*)
Citizen Reporter: Anas Arfandi

