JAKARTA, UPEKS.co.id– Untuk mendukung terwujudnya gerakan Bali Smart Island yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Bali, Dinas Komunikasi, Informasi, dan Statistik (Diskominfos) setempat menyadari munculnya kebutuhan akan dukungan teknologi cloud untuk meningkatkan skalabilitas data center konvensional milik mereka.
Di tengah gelombang pandemi Covid-19 yang melanda, Diskominfos membutuhkan solusi yang mampu mengoptimalkan layanan publik oleh pegawai yang bekerja dari rumah, tanpa mengorbankan efisiensi kinerja.
Dengan Amazon Web Services (AWS), Diskominfos mampu memigrasikan data dari sistem on-premises yang bergantung sekali dengan kondisi ketersediaan energi listrik menjadi sistem berbasis cloud di mana data bisa tersedia sesuai dengan yang mereka butuhkan.
Mereka juga meluncurkan sistem presensi menggunakan teknologi machine learning (ML) bagi 19.820 pegawai agar bisa melaporkan kehadiran secara virtual. Mereka berhasil memangkas hampir 69 persen biaya sistem presensi per bulannya dengan bermigrasi ke cloud, sehingga dana yang ada bisa digunakan untuk mendukung inovasi maupun pelaksanaan program Bali Smart Island.
“Bukan semata karena teknologinya saja, kami juga memperoleh dukungan langsung dari pihak AWS setempat juga pelatihan untuk layanan-layanan yang kami gunakan, dari dasar-dasar mengenai cloud hingga impelementasi skalabilitas secara otomatis. AWS jelas lebih unggul dari yang lain,” kata Ngurah Udiyana, Kepala Seksi Aplikasi Informatika Diskominfos Bali, dalam keterangan tertulis yang diterima Upeks, Kamis (7/10/2021).
Bali yang terkenal karena wisata alam dan budayanya yang menawan. Sebagai bentuk menjaga harmoni dan kelestarian alam dengan teknologi mutakhir, Diskominfos menjalankan inisiatif Bali Smart Island dengan misi untuk mengkonsolidasikan sumber-sumber daya layanan publik ke dalam sebuah sistem manajemen data yang teragregasikan dan bisa diakses baik oleh masyarakat maupun pemerintah, dari satu aplikasi.
Sebelum bermigrasi ke AWS, Diskominfos menyimpan data di data center setempat, namun terjadi kendala dengan kondisi pasokan listrik yang tidak bisa diandalkan saat itu. Mati listrik bisa berlangsung 20-40 menit, bahkan tak jarang ada yang sampai 4 jam. Selain mahal dan sulit dikelola dan dikembangkan skalanya, inovasi juga terbatas karena waktu banyak dihabiskan untuk menjaga bagaimana data center tetap beroperasi kala itu.
“Saat terjadi kendala dengan pasokan listrik, data center tidak dapat beroperasi dengan baik. Tentu ini berimbas ke penyelenggaraan layanan kepada masyarakat,” terang Ngurah Udiyana.
AWS sendiri mendukung Diskominfos dalam membangun infrastruktur untuk penyelenggaraan solusi kantor virtual, sekaligus meningkatkan skalabilitas sistem saat digunakan bersamaan oleh seluruh pegawai negeri di lingkungan pemerintahan Provinsi Bali, termasuk bagi tenaga pendidik di 147 sekolah negeri di seluruh provinsi di Indonesia.
Mengingat bahwa tingkat kehadiran dan kinerja jadi tolok ukur dalam menentukan sistem penggajian pegawai di lingkungan pemerintahan, maka dikembangkannya sistem ini akan membuat guru-guru bisa terus bekerja kapanpun dan dari manapun. (rls)

