Dosen PPs UNM Latih Cipta dan Baca Puisi Guru SD di Tinggimoncong Gowa

  • Whatsapp
Dosen PPs UNM Latih Cipta dan Baca Puisi Guru SD di Tinggimoncong Gowa

 

Gowa, Upeks.co.id–Puisi sarana curahan hati, jiwa, dan rasa seorang penyair. Dalam puisi, keindahan bahasa disusun dengan metafora dan kiasan yang dapat menggugah nurani penikmatnya. Sebagai jenis sastra yang banyak diminati, puisi dapat dicipta dan dibaca oleh siapa saja, termasuk guru. Namun, mencipta puisi indah dan syahdu ketika dibaca, bukanlah perkara mudah dan gampang.

Bacaan Lainnya

Demikian diungkapkan Andi Sahtiani Jahrir, S.Pd.,M.Pd. ketika menyampaikan materi dalam kegiatan Pelatihan Cipta dan Baca Puisi pada Kelompok Guru SD di Tinggimoncong Kabupaten Gowa, Rabu (18/8) via daring dengan menggunakan aplikasi zoom meeting. Turut memberi materi, yaitu Prof.Dr.Anshari,M.Hum. dan Rosita Desriani,S.S.,S.Pd. yang melibatkan mahasiswa PPs UNM sebagai pendamping.

Dalam uraiannya, Andi Sahtiani Jahrir menjelaskan, setiap calon penyair harus memiliki bekal pengetahuan teori puisi. Sebab, teori akan menuntun untuk dapat mengapresiasi sehingga memiliki keterampilan menulis dan membaca puisi dengan baik? Mencipta puisi dibutuhkan pemahaman konsep teori puisi sehingga puisi yang ditulis sesuai norma. Begitu pula membaca puisi dibutuhkan pemahaman teknik olah vokal, jiwa, dan fisik.

Kegiatan pelatihan via daring dibuka Ketua LP2M UNM, Prof.Dr.Ir. Bakhrani A. Rauf, M.T. Dalam sambutannya, Guru Besar FT UNM ini menekankan pentingnya dosen untuk mengaplikasikan ilmunya kepada masyarakat. Kata Prof. Bakhrani, ilmu atau ipteks tidak berguna jika tidak dimanfaatkan bagi kehidupan masyarakat. Apalagi pengabdian kepada masyarakat merupakan kewajiban dari Tridharma Perguruan Tinggi, selain mengajar dan meneliti.

Prof. Dr.Anshari, M.Hum. selaku anggota tim pengabdi, menjelaskan materi menulis kreatif puisi. Guru Besar FBS UNM ini menekankan bagaimana teknik menulis yang baik. Menurut Prof. Anshari, keterampilan menulis itu dapat dilatih terus-menerus. Penulis sukses lahir dari latihan dan latihan. Menulis harus berorientasi proses.

“Menulis sastra membutuhkan kreativitas. Makanya disebut menulis kreatif karena tidak perlu ada kaidah menulis. Penulis bebas menuangkan ide atau gagasan ke dalam cipta puisi. Meski bebas, penulis tetap memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang teori puisi sehingga dapat dikatakan puisi yang baik,” kata Wakil Direktur 3 PPs UNM.

Sementara keterampilan baca puisi dibimbing dan dilatih Rosita Desriani yang dikenal sebagai pembaca puisi. Sarjana Sastra Indonesia ini menyarankan agar dalam membaca puisi perlu diperhatikan vokal, intonasi, dan ekspresi. Karena unsur itu sangat mempengaruhi kualitas pembacaan puisi.

Dalam pelatihan baca puisi, setiap peserta ditugaskan membaca puisi. Pembacaan puisi dikomentari peserta lain dan dievaluasi oleh pemateri. Para peserta sangat antusias dan senang karena adanya pelatihan ini. Peserta diberi tugas menulis puisi dengan tema atau latar lingkungan hidup.

Setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta guru SD diharapkan dapat menularkan kompetensi dan keterampilan cipta dan baca puisi kepada guru SD yang lain. Selain itu, para guru akan menerapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar.(rls)