Presiden IMEPI: Saatnya Wujudkan Investasi Hijau

  • Whatsapp
Presiden IMEPI: Saatnya Wujudkan Investasi Hijau

MAKASSAR, UPEKS.co.id– Investasi Hijau jadi wacana menjanjikan untuk kembali digulirkan, utamanya pada
sektor Ekonomi Nasional.

Presiden Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Indonesia (IMEPI), Ikhwan Saputra mengatakan, bukan tanpa alasan, konsep Investasi Hijau yang mengutamakan kepedulian terhadap lingkungan dianggap dapat menjadi solusi atas masalah kerusakan lingkungan yang melanda dunia, khususnya Indonesia.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, bencana banjir di Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu, sudah seharusnya menjadi catatan kritis, perlu ada kepedulian yang lebih serius terhadap kerusakan lingkungan di Indonesia.

Jika kita tarik lebih mendalam terhadap problem nasional, isu lingkungan dan sosial nampaknya belum benar- benar menjadi bagian integral dalam proses pembangunan.

Berdasarkan studi Indeks Daya Saing Daerah Berkelanjutan (IDSDB) yang dirilis Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) pada 2020, rata-rata skor IDSDB nasional 52,57 persen.

Angka tersebut masuk ke dalam level sedang apabila mengacu standar klasifikasi daya saing menurut Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

Klasifikasi levelnya: rendah (00-30,00), sedang (30,01-60,00), tinggi (60,01-80,00), dan sangat tinggi (80,01-100).

Secara lebih detail, mengacu studi yang dilakukan terhadap 356 kabupaten di Indonesia tersebut, hanya 3,09 persen daerah yang masuk dalam level tinggi.

Adapun sebanyak 96,91 persen daerah menempati level sedang.

IDSDB mengukur daya pembangunan suatu daerah berbasis pilar lingkungan lestari, ekonomi, tangguh, sosial inklusif, dan tata kelola yang baik.

Itu artinya, sebagian besar daerah belum sepenuhnya memperhatikan kelestarian lingkungan dan prinsip-prinsip
keberlanjutan sosial, ekonomi, dan tata kelola.

Apalagi ketimpangan sangat terlihat berdasarkan wilayah Timur
dan Barat.

Dalam kategori level sedang, sebanyak 79,94 persen daerah berada di Indonesia Barat sedangkan sisanya berada di wilayah Timur.

Menurut studi tersebut, kesenjangan utamanya terjadi pada pilar ekonomi dan sosial inklusif.

Untuk pilar ekonomi terkait dengan ketersediaan infrastruktur ekonomi, ekosistem investasi, dan kemampuan keuangan daerah.

Sedangkan pilar sosial inklusif terkait kualitas sumber daya manusia. Situasi yang ada saat ini tentunya perlu diperbaiki.

Salah satunya dengan mendorong investasi yang memiliki dampak positif bagi masyarakat yakni Impact Investing yang kurang lebih sama dengan konsep Investasi Hijau.

“Dari berbagai data data di atas, maka momentum saat ini sangat tepat menerapkan konsep invetasi hijau, dengan melihat kondisi kerusakan lingkungan di berbagai daerah di Indonesia yang kian parah,” ujarnya.

Ikhwan menegaskan, dapat menjadi solusi melalui investasi berbasis Environmental, Social and Governance (ESG) yang berorientasi bukan hanya pada keuntungan tetap, tapi juga pada kepedulian terhadap aspek lingkungan.

“Konsep Investasi Hijau telah menjadi solusi. Berdasarkan data yang dihimpun katadata.id menyebutkan tren Investasi Hijau berbasis ESG kian meningkat dan populer diberbagai negara di dunia,” tandasnya. (rls)

Pos terkait