JKN-KIS Menjaga Asa Iskandar Tetap Menyala

  • Whatsapp
JKN-KIS Menjaga Asa Iskandar Tetap Menyala

JKN-KIS Menjaga Asa Iskandar Tetap Menyala

Watampone, Upeks.co.id – Iskandar (60) merupakan salah satu peserta JKN-KIS yang terdaftar pada segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya dibayarkan oleh Pemerintah Daerah. Pria yang tinggal di daerah Toro Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini sudah tidak mampu bekerja lagi karena sakit yang dideritanya. Untuk menghidupi keluarganya, ia pun mengandalkan istrinya, Marlina, berjualan di pasar. Sejak didiagnosis penyakit gagal ginjal pada tahun 2018 silam, Iskandar diwajibkan untuk rutin menjalani terapi cuci darah atau hemodialisa.

Bacaan Lainnya

“Waktu pertama kali saya merasa sakit adalah saat saya menjadi mandor kelapa sawit kemudian saya dirawat inap di rumah sakit. Oleh dokter, saya diperiksa lebih mendalam, lalu ia menyarankan saya untuk cuci darah,” katanya saat ditemui oleh tim Jamkesnews di kediamannya, Senin (27/07).

Iskandar mengaku karena ketidaktahuannya akan bagaimana proses cuci darah tersebut, ia sempat menolak untuk melakukannya. Namun setelah diberikan pengertian dengan penjelasan oleh dokter dan melihat langsung perawatan para pasien cuci darah di rumah sakit, akhirnya ia pun bersedia.

“Alhamdulillah semenjak setiap selesai dilakukan cuci darah rasa sakit di tubuh saya hilang,” ujar pria yang menjalani cuci darah di RSUD Tenriawaru Kabupaten Bone ini.

Setiap kali harus melakukan cuci darah, Iskandar beserta istri harus menempuh jarak sekitar 10 kilometer dari rumah untuk menuju rumah sakit dengan naik motor.

“Saya menjalani cuci darah setiap 1 kali seminggu setiap hari Kamis. Rutinitas ini telah berjalan selama 2 tahun lamanya. Saat menjalani prosedur cuci darah pasien tidak dapat meninggalkan tempat tidur sehingga semua aktivitas dilakukan di atas tempat tidur,” tuturnya.

Ia mengakui bahwa segala pelayanan kesehatan yang diterima selama ini berkat Program JKN-KIS, ia tak bisa membayangkan apabila tidak ada program ini akan seperti apa nasibnya karena tak mungkin bisa membayar biaya terapi cuci darah.

“Dengan adanya kartu JKN-KIS bantuan dari pemerintah saya sangat bersyukur. Biasanya setelah saya cuci darah yang lamanya sekitar lima jam terkadang saya merasa oleng terpaksa saya minta bantuan ibu (istri) untuk membonceng pulang. Untung ada ibu yang mendampingi, seandainya tidak ada saya tidak tahu bagaimana lagi,” jelas Iskandar.

Iskandar pun mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada pemerintah dan BPJS Kesehatan karena telah menanggung seluruh biaya pelayanan kesehatannya selama ini. Menurutnya, kehadiran JKN-KIS telah membuat harapan hidupnya tetap menyala.

“Semoga penderita gagal ginjal yang lain bisa tetap semangat menjalani hidup. Ingat keluarga saja,” pesannya. (Jamkesnews)

Pos terkait