BPJS Kesehatan Ajak Mahasiswa Pahami JKN-KIS

  • Whatsapp
BPJS Kesehatan Ajak Mahasiswa Pahami JKN-KIS

BPJS Kesehatan Ajak Mahasiswa Pahami JKN-KIS

Makassar, Upeks.co.id – Dewan Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar mengadakan Webinar Kesehatan bersama BPJS Kesehatan, Rabu (20/05). Webinar ini dipandu oleh Sekretaris umum DEMA FKIK UIN Alauddin Makassar, Nurul Fadhilah Ihzan.

Bacaan Lainnya

Dalam kegiatan tersebut, Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah Sulselbartramal Donni Hendrawan menjelaskan bahwa dalam Perpres 64/2020, kenaikan iuran terjadi untuk semua peserta kelas mandiri dan Penerima Bantuan Iuran (PBI), tetapi pemerintah memberikan subsidi kepada peserta aktif khususnya di kelas III mandiri atau Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP) yang jumlahnya sekitar 35,4 juta orang. Apalagi untuk peserta PBI yang mencapai 96,5 juta orang, seluruh kewajibannya ditanggung oleh pemerintah alias gratis.

“Kelas III yang harus mengalami kenaikan iuran dari Rp25.500 menjadi Rp42.000, pemerintah tahun ini memberikan subsidi Rp16.500. Oleh karena itu, iuran yang dibayarkan peserta kelas III tetap sebesar Rp25.500 per bulan. Total lebih dari 132 juta jiwa iurannya disubsidi pemerintah,” kata Donni.

Donni juga menambahkan sebagai bentuk dukungan pada masa pandemi Covid-19, pengaktifan kembali peserta yang biasanya harus melunasi tunggakan iuran paling banyak 24 bulan, maka pada tahun 2020 ini penghentian sementara berakhir dengan pelunasan iuran paling banyak 6 bulan, dan kelonggaran pelunasan berlaku sampai dengan tahun 2021.

Sementara itu, EO Rumah Sakit Ibu dan Anak Ananda Fadli Ananda mengatakan pertimbangan kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang tertuang pada Perpres 64/2020 pasti sudah sangat diperhitungkan oleh ahli-ahli dan ia berharap dampak Perpres ini ke depannya membuat Program JKN-KIS ini menjadi lebih baik lagi. Ia juga mengakui bahwa banyak dampak positif sejak hadirnya Program JKN-KIS di tengah-tengah masyarakat.

“Saat ini, masyarakat secara terbuka dapat mengakses fasilitas kesehatan tanpa melihat status sosial. Dulu banyak juga masyarakat yang mengidap penyakit meninggal di rumah karena takut untuk datang ke rumah sakit, berbeda dengan sekarang. Program ini sangat baik, maka tanggungjawab kita bersama untuk menjaga kesinambungannya,” ujarnya. (Jamkesnews)

Pos terkait