
KOLAKA,UPEKS.co.id—Orang Tanpa Gejala(OTG) di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara(Sultra) sangat meningkat tajam.
Sebelumnya tercatat 20 orang, kini dalam beberapa pekan telah mencapai 180 orang. Berdasarkan data yang diungkapkan dr.Muh Aris, juru bicara (jubir) percepatan penanganan Gugus tugas (Gustas) Covid-19 Kabupaten Kolaka kemarin.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kolaka, Harun Masirri dikonfirmasi Upeks melalui WhatsAppnya Selasa (9/6/20) menjelaskan OTG adalah istilah dalam pedoman dan pengendalian Covid-19.
OTG dikreteriakan sebagai orang yang tidak bergejala dan memiliki reziko tertular dari orang positif Covid-19.
“Jadi kalau akhir-akhir ini OTG di Kolaka cukup meningkat tajam, berarti banyak orang di Kolaka yang pernah kontak erat dengan yang terkonfirmasi positif Covid-19,”jelas Harun.
Dikatakannya OTG adalah orang yang telah terpapar dengan Covid-19, namun tidak memiliki atau merasakan gejala virus seperti batuk, demam, sakit tenggorokan, sesak nafas.
“Jadi mereka ini rentan menularkannya kepada orang lain karena tidak terdeteksi,”kata Harun.
Sementara Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kolaka Sultra Dwi Dharma mengungkapkan OTG di Kolaka laksana gunung es bisa saja tiba-tiba meledak jika tidak segera dilakukan penanganan secara serius.
“Yang kita butuhkan dari masyarakat adalah partisipasi serta kebersamaan dalam menjalankan protokol kesehatan, serta mematuhi intruksi Bupati demi untuk keselamatan kita bersama,” ungkap Dwi.
Dikatakannya, beberapa hari ini ada pihak menginginkan agar pantai wisata kuliner (Wiskul) segera dibuka kembali. Dwi juga wakil ketua harian Satgas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Kolaka menegaskan bahwa bilamana Wiskul dibuka maka rezikonya sangat tinggi.
Sebab tidak menuntup kemungkinan OTG ini akan kesana dan berkumpul dengan masyarakat lainnya, sehingga semakin membuat berat pekerjaan Gustas dan tenaga medis dalam melakukan penanganan terhadap Covid-19.
“Jadi kalau Wiskul ini dibuka, maka bisa saja orang dari luar Kolaka kumpul disana. Siapa bilang OTG tidak kesana. Ini yang kita kwatirkan jika Wiskul dibuka dalam kondisi OTG begitu tinggi di daerah ini,”tegas Dwi.
Selain itu, kata Dwi bahwa Gustas sudah membuat aturan, dimana rumah makan dan Warkop harus tutup pada jam 22.00 wita, serta tidak diizinkan pembeli untuk tinggal duduk lebih lama.
“Jadi kami intruksikan pada semua pemilik rumah makan dan warkop. Kalau datang pembeli, langsung bungkus dan suruh jalan, sebab covid ini ada diantara kita,”ujar Dwi.(pil)




