Wajo Panen Raya, Petani Langsung Tanam Padi Lagi di Tengah Pandemi Covid 19

  • Whatsapp
Wajo Panen Raya, Petani Langsung Tanam Padi Lagi di Tengah Pandemi Covid 19

Wajo Panen Raya, Petani Langsung Tanam Padi Lagi di Tengah Pandemi Covid 19

SENGKANG.UPEKS.co.id–Pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia tidak menghalangi petani melakukan  panen. Mereka bahkan langsung mengolah tanah mereka kembali untuk penanaman lagi. Ini terjadi di Kabupaten  Wajo yang merupakan salah satu daerah sentra produksi di Provinsi Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Muhammad Ashar mengungkapkan luas baku  sawah Kabupaten Wajo tahun 2019 seluas 100.991 hektare.

Luas panen padi pada bulan Januari hingga April 2020 sebesar 27.120 hektare dengan luas panen bulan Januari  2.658 hektare, Februari 2.279 hektare, Maret 4.427 hektare dan rencana panen bulan April seluas 17.756 hektare.

“Tidak hanya padi, petani pun memamen jagung. Luas panen jagung Januari sampai April 2020 seluas 11.439,5  hektare. Di mana luas panen bulan Januari 1.012 hektare, Februari 414,5 hektare, Maret 2.350 hektare dan April  seluas 7.663 hektare dengan produksitivitas 9 ton per hektare,” demikian dikatakan Ashar, Minggu (12/4/2020).

Ashar mengaku semangat para petani Kabupaten Wajo saat ini sangat tinggi melakukan penanaman, walau di  tengah wabah virus corona. Usai panen jagung langsung melakukan kegiatan penanaman padi, contohnya petani  Kelompok Tani Lamangappa, Desa Lautang, Kecamatan Belawa. Luas pertanaman jagung se Kecamatan Belawa 2.625 hektar dengan produktivitas 8,5 sampai 9 ton per hektare.

“Semangat petani ini tentu karena dukungan program pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam hal ini  Kementerian Pertanian. Banyak bantuan yang dirasakan petani di antara bibit, pupuk dan alat mesin pertanian  (alsintan, red) untuk pengolahan lahan, tanam dan panen,” terangnya.

“Harga gabah kering panen saat ini sangat menggembirakan petani, yaitu Rp 5.000 per kilogram. Harga jagung  diharapkan mencapai Rp 3.500 per kilogram sehingga petani untung dan terus semangat melakukan penanaman,”  jelas Ashar.

Kepala Desa Lautang, Kecamatan Belawa, Wajo, Muhamad Nain mengapresasi program Kementan dalam  mendorong produksi pangan dan peningkatan kesejahteraan petani. Pasalnya, telah memberikan banyak bantuan  mulai dari bibit, pupuk, alsintan dan lahan pertanian Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani 2.325  hektare.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Kementerian Pertanian karena Desa Lautang mendapat  bantuan Program Serasi, yang mana irigasi sekunder dan sungai digali, bantuan bibit berikut pupuknya dan juga  bantuan lainnya berupa traktor roda 4 dan traktor roda 2 serta alat tanam dan panen padi dan jagung,” ujarnya.

Menurut Nain, bantuan alsintan sangat memudahkan petani untuk percepatan tanam. Saat ini petani merasakan  hasil bantuan Kementan karena di tengah pandemi covid 19 tetap melakukan panen jagung 8,5 sampai 9 ton per  hektar seluas 1.200 hektare dan dilanjutkan penanaman padi.

“Kami benar-benar merasakan bantuan ini sangat meningkatkan pendapatan petani. Petani mengolah lahan lebih  cepat menggunakan traktor roda 4 dan panen sampai pemipilan menggunakan mesin,” terangnya.

Sementara itu di tempat terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi mengatakan pada  masa panen raya ini, Kementam menerapkan protokol kesehatan penanganan virus Covid-19. Selain itu, juga  diupayakan prasarana dan sarana pasca panen guna membantu petani dan menyelamatkan hasil panen.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, kita dan para petani dalam beraktivitas harus tetap tetap  menjaga jarak fisik, mencuci tangan dengan sabun dan mengikuti anjuran pemerintah. Keselamatan dan  terjaganya pendapatan petani serta stok pangan menjadi prioritas menghadapi masa pandemi corona,” ujarnya

Terkait menjaga harga di kala puncak panen raya, Suwandi membeberkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo  memiliki program terobosan sebagai solusi nyata yakni melalui Kostraling (Komando Startegi Penggilingan Padi)  melalui pendekatakan KUR (Kredit Usaha Rakyat). Dengan adanya KUR, penyerapakan hasil petani tidak  dimainkan para tengkulak namun dibeli langsung oleh mitra atau penggilingan sebagai penjamin petani.

Data Ditjen Tanaman Pangan, realiasasi KUR sejak Januari hingga 3 April sudah mencapai Rp 3 triliun dari  realisasi KUR tanaman pangan sebesar Rp 4 triliun. Artinya sudah 75 persen KUR terserap untuk usaha padi dan  penggilingan.

“Kita harapkan dengan KUR ini, para perusahaan mitra dan penggilingan mempunyai modal cukup untuk membeli  gabah petani. Harga padi dan jagung petani tidak rendah, tapi pada posisi selalu menguntungkan petani,” jelas  Suwandi.

Suwandi menambahkan pihaknya juga sedang menjajaki Kostraling bekerjasama dalam pemasaran online dalam  menjual beras ke masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga sedang merancang bantuan untuk penggilingan jika  harga gabah turun di bawah HPP.

“Dengan demikian, sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pertanian atau penyediaan pangan  tidak boleh berhenti terutama dalam melawan masa wabah virus corona. Ini saatnya kita menjadi pahlawan  pangan untuk menyelamatkan bangsa. Pastikan jangan sampai ada pangan yang tertahan dan petani sejahtera,”
tegasnya. (fjr).

Pos terkait