ENREKANG, UPEKS.co.id — Untuk mengetahui latar belakang aksi pencabulan,Kepala Puskesmas Kota Enrekang Drg. Hj. Sri Siswaty Zainal bersama Upeks berkunjung ke Polsek Enrekang bertemu ”MY”, pelaku pencabulan terhadap 8 anak laki – laki dibawah umur.
Pelaku ditahan di Polsek Enrekang sejak 16 September 2019. Dia diamankan Tim Sat Reskrim Polsek Enrekang
dipimpin Kanit Reskrim Polsek Enrekang, Aiptu Syafruddin di kediaman ”MY” di Dusun Lapporan, Desa Temban,
Kecamatan Enrekang.
Hampir dua jam, Kapus Kota Sri Siswaty Zainal yang juga pengurus P2TP2A Kabupaten Enrekang berinteraksi
memiliki kelainan seksual sejak kecil.
Kepada Upeks dan Kapus Kota Enrekang MY mengaku sejak kecil tidak pernah main sama lelaki, teman sepermainannya semua perempuan.
” Waktu sekolah saya selalu main dengan perempuan. Main karet,main kasti, main enggo pokoknya semua permainan perempuan saya tau. Saya tidak suka main dengan laki – laki karena kalau saya dekat dengan temanku laki – laki saya suka dia, kalau temanku perempuan tidak ada rasa apa – apa”. tutur MY.
Dia mengaku tak tamat SD, hanya kelas 3 SD dan keluar karena tak tahan terus dipukuli sama teman – teman
lelakinya di sekolah. Sejak kelas 1 MY bantu orang tuanya jualan kue di sekolah.
Setelah putus sekolah MY bantu orang tuanya berkebun. Ibunya bernama Anjang dan bapaknya bernama Narra.
MY bersaudara 9 orang meninggal 3 orang jadi tinggal 6 orang MY anak ke 8.
Tahun 1989 hingga 2002 MY merantau ke Malaysia. Sekembalinya dia menetap di Pinrang berjualan bakso
hingga 2012. Tahun itu juga MY pulang kekampungnya Dusun Lapporan, Desa Temban dan membuka warung
hingga dia tertangkap. Sempat dua kali beristri tapi cerai. Dia mengaku tidak punya perasaan apapun ketika tidur
bersama istrinya.
“Istri pertamaku hanya beberapa hari terus dia pergi, yang kedua juga begitu. Tidak tau kenapa saya tidak bisa apa
– apa kalau dekat dengan istri. Saya tidak punya perasaan apapun,” ungkapnya.
Dari situlah MY mengaku mulai melalukan seks meyimpang. Pertama kepada satu anak laki – laki yang dia jadikan
pacarnya. Anak itu sekarang sekolah di salah satu SMAN di Enrekang. Anak inilah yang sering dia bawa kesalah
satu hotel di Pare Pare.
Kemudian merasa aksinya aman dia mulai mengajak beberapa anak lelaki untuk memuaskan nafsu dan
dilakukannya berkali kali.
Anak – anak tersebut menikmati apa yang diberikan MY tanpa berfikir jika dirinya menjadi korban seks menyimpang hingga salah satunya mengidap penyakit kelamin.
” Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus bergerak cepat. Takutnya kalau anak-anak itu memiliki kelainan seksual karena
dia sudah merasakan diperlakukan seperti itu. Saya khawatir korban ini akan miliki perilaku sama seperti pelaku”.
kata Kapus Kota Enrekang Drg. Hj. Sri Siswaty Zainal.
Dia berharap semua unsur terlibat dalam penanganan kasus ini karena korbannya lebih dari satu dan tidak menutup kemungkinan terus bertambah. (Sry)




