ENREKANG, UPEKS.co.id – Masyarakat muslim Indonesia, khususnya daerah Sulawesi Selatan, dan lebih khusus
lagi wilayah Bugis termasuk Enrekang antusias menyambut 10 Muharram dengan berbagai macam kegiatan.
Ada yang terpuji seperti melakukan puasa Tasu’ ah dan Asyura, atau puasa pada hari kesembilan dan sepuluh Muharram.
Menurut Ketua Infokom MUI Enrekang, Dr Ilham Kadir, MA Pada dasarnya ibadah-ibadah pada bulan Muharram memang sangat dianjurka. Ia menyitir sebuah hadis “Puasa yang paling afdal setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan salat sunnah yang paling baik adalah salat tahajjud”, katanya.
Katanya lagi, bulan Muharram digelar oleh Nabi sebagai “syahrullah atau bulannya Allah”.
Karena itu, Pimpinan Baznas Enrekang tersebut melihat bahwa masyarakat muslim secara umum sudah memahami keutamaan bulan Muharram.
Hanya saja, ada kebiasaan lain yang tidak ada asasnya dalam agama, ia memberikan contoh, seperti belanja prabot rumah tangga dengan maksud bahwa barang-barang yang dibeli pada hari ini akan awet dan tinggal lama.
“Tentu ini adalah perkara bid’ah jika memang dihubungkan dengan agama, tapi kalau hanya sekadar belanja perlengkapan rumah tangga karena memang butuh dan bertepatan dengan 10 Muharram, maka itu boleh-boleh saja, kapan pun boleh belanja asal ada uang dan barang,” ujar ayah dua putri ini.
Namun yang paling mungkar dari kemungkaran yang ada pada hari ini adalah apa yang dilakukan oleh kaum Syiah. Mereka menjadikan 10 Muharram sebagai hari peringatan kematian Husain bin Ali Radhiallahu Anhu di Karbala.
“Kita harus membentengi keluarga dari ajaran sesat kaum Syiah, dan mengajak siapa pun dari umat Islam untuk menjauhi ajaran yang telah dikategorikan oleh MUI sebagai aliran sesat dan menyimpang,” pungkas alumni doktor pendidikan Islam UIKA Bogor ini.( Sry)




