EKONOMI BISNIS

Jonga Merah Terkepung

Rudy S Syamsuddin – Managing Director PT Sermani Steel Makassar

Makassar, Upeks.co.id — SI Jonga Merah itu kini terkepung. Dari segala penjuru. Ruang geraknya semakin sempit. Wilayah peredarannya kini dimasuki. Diserang. Digerogoti.

Pertempuran merebut pasar seng ini memang sudah berlangsung lama.

“Kira-kira sudah sekitar 10 tahun terakhir,” kata Rudi S Syamsuddin, pemilik pabrik seng legendaris Makassar, PT Sermani Steel, kepada Upeks.

Sejak masuknya seng impor. Tahun-tahun terakhir, Rudy mengaku sangat kewalahan melakukan penetrasi pasar. Lantaran pasar seng semakin ramai dengan seng impor.

“Semua cara sudah kami lakukan. Tapi harga memang sangat menentukan,” katanya.

Kesulitannya adalah; Satu sisi Si Jonga Merah. Merek seng yang telah berumur 50 tahun ini. Terus mempertahankan kualitas produknya. Lebih tebal. Tahan segala cuaca. Dan bisa dipakai sampai 20 tahun. Tetap Bertahan. Tidak mau ikut arus pasar. Konsekuensinya harga juga harus sesuai kualitas tadi. Lebih tinggi.

Tetapi, ketika seng impor datang menyerbu. Jonga Merah baru kaget. Ternyata saingan yang datang memasang harga jauh lebih murah dibawahnya. Pilihan konsumen pun pelan-pelan beralih.

Hosting Unlimited Indonesia

Rudy tidak menyalahkan siapa-siapa. Tetapi dia menilai. Seharusnya pihak regulator dalam hal ini, pemerintah memperketat pengawasan. Khususnya aturan produk yang harus memenuhi standar SNI.

“Sebenarnya, merek Jonga Merah sangat kuat. Tetapi secinta-cintanya orang kepada Sermani, jika harga mahal. Maka, mereka akan memilih yang lebih murah. Walaupun kualitas seng itu rendah,” kata Rudy yang juga Managing Director PT Sermani Steel Makassar ini.

Apa yang dilakukan kemudian? Rudy sudah memikirkan masak-masak. Akhirnya dia memutuskan. Langkah yang akan dilakukan adalah begini: Tahun ini juga, Sermani turut ramai. Jonga Merah akan Ikut irama pasar.

Rudy mengaku Sermani sudah siap melakukan itu. Dan merupakan jalan terbaik untuk tetap bertahan.

“Kalau kami tidak lakukan ini. Tidak mungkin bisa bertahan,” katanya.

Sehingga dalam waktu dekat, Sermani akan menyesuaikan harga seng Jonga Merah di pasar.

Saat ini produksi Sermani sekiar 14 ribu ton setahun. Dari kapasitas produksi pabrik 36 ribu ton setahun.

“Saat ini, permintaan paling banyak kami layani adalah Palopo. Yang bisa mencapai 2 ribu ton setahun. Disamping daerah-daerah lain,” katanya.

Rudy berharap suatu saat regulator kembali melakukan pengawasan dalam mekanisme pasar manufacturing ini.

“Kita berharap, suatu saat regulator bisa melakukan pengawasan lagi. Seperti dulu,” katanya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#TRENDING

To Top