MAKASSAR, UPEKS.co.id—Sejumlah bank daerah tengah berencana untuk melakukan penawaran saham perdana atau Intial Public Offering (IPO). Namun, Bank Sulselbar masih belum niat ke arah tersebut. Modal dinilai masih memadai.
Direktur Utama Bank Sulselbar, Andi Muhammad Rahmat menjelaskan, untuk sementara rasio kecukupan modal alias CAR (Capital Adequacy Ratio) bank masih kuat menopang operasional. Artinya, modal masih cukup memadai.
“Untuk itu masuk ke IPO belum menjadi prioritas utama,” katanya kepada Upeks, Senin (18/03/19).
Selain itu, Rahmat menegaskan, upaya Pemprov Sulsel untuk memperbesar porsi kepemilikan saham di Bank Sulselbar yang ditargetkan mampu mencapai 51%.
“Target itu dalam proses. Itu juga amanah yang harus menjadi perhatian,” tuturnya. Indikator pendukung lainnya terkait kekuatan modal Bank Sulselbar adalah pengembalian ekuitas atau ROE (Return On Equity) masih di atas 22 persen, kata Rahmat, ini memberi indikasi bahwa perusahaan ini sangat baik untuk investasi Pemda.
“Sebagai sumber PAD utama dari deviden yang kami berikan. Sebagai contoh Pemprov yang setoran sahamnya Rp295 miliar memperoleh deviden diatas Rp100 miliar per tahunnya,” tukasnya.
Kendati belum ke arah IPO, tambahnya, namun bank Sulselbar telah melepas obligasi dengan nilai saat ini diatas 1 triliun. Menunjukkan bank mampu diterima pasar dan memiliki keterbukaan laporan keuangan.
“Satu hal yang utama pula, bahwa bank memiliki grading A plus dari rating Pefindo,” pungkasnya.
Saat ini jumlah Bank Pembangunan Daerah (DPD) yang sudah jadi perusahaan publik masih minim. Dari 27 bank daerah, baru tiga yang telah jadi emiten yakni PT Bank Pembangunan Derah Jawa Barat Tbk, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk, dan PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk.
Namun jumlahnya akan semakin bertambah. Beberapa bank daerah tengah mempersiapkan diri untuk penawaran saham perdana.
Bank daerah lain yang berencana IPO adalah Bank DKI, Bank kalimantan Selatan (Kalsel), Bank Sulawesi Utara dan Gorontallo (SulutGo), dan Bank Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel).
Bank DKI telah memasukkan IPO dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun ini. Mereka menargetkan akan melantai di bursa saham di tahun ini, namun apakah terealisasi akan tergantung pada kondisi pasar dan juga restu dari pemilik saham dan legislatif.
Untuk mempersiapkan dan mengawal rencana IPO tersebut, Bank DKI telah menunjuk tiga sekuritas sebegai penjamin emisi yakni Mandiri Sekuritas, Trimegah Sekuritas dan RHB Sekuritas.
Per akhir tahun 2018, rasio permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank DKI tercatat 25%. Saat ini posisinya telah meningkat menjadi 27% lantaran pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) di awal tahun cukup tinggi sedangkan penyaluran kredit masih lesu.
Sementara rencana IPO Bank SulutGO dipastikan belum akan terealisasi tahun ini. Setelah tertunda pada tahun 2018, bank ini sebelumnya mewacanakan untuk menggelar IPO tahun 2019. “IPO belum di tahun ini,” ujar Jeffry Dendeng, Direktur Utama Bank SulutGo.
Sementara Bank Kalsel direncanakan akan IPO tahun 2020. Itu disampaikan Wakil Gubernut Kalsel saat membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada pertengahan Februari lalu. Saat dikonfirmasi perkembangannya, Sekretaris Perusahaan Bank Kalse Septian Reiswandy enggan merespon.
Adapun rencana IPO Bank Sumsel Babel belum akan dilakukan dalam waktu dekat. “IPO ini rencana jangka panjang. Kapan tahunnya, belum bisa kami sebutkan,” ungkap Antonius Prabowo, Direktur Pemasaran Bank Sumsel Babel. (hry).




