Politik Dinasti Ujungnya Korupsi

Politik Dinasti Ujungnya Korupsi

Politik Dinasti Ujungnya Korupsi

MAKASSAR, UPEKS.co.id —Politik Dinasti di Pilkada memiliki daya rusak yang besar terhadap semangat good  governance karena cenderung koruptif.

Bacaan Lainnya

Itulah simpulan dari diskusi Komunitas Wartawan Politik Sulsel bersama empat pengamat politik terkait praktik  politik dinasti di Pilkada, utamanya pada kasus Pilkada Pasangkayu.

Seperti diketahui, bupati petahana Pasangkayu, Agus Ambo Djiwa mendorong kakak kandung dan istrinya sendiri  untuk maju berpasangan di Pilkada Pasangkayu 2020. Pasangan iparan berakronim YES (Yaumil Ambo Djiwa- Herny Agus) ini bersaing dengan dua pasangan calon lainnya.

“Politik oligarki ujungnya pasti korupsi. Tidak ada kekuasaan yang melibatkan anggota keluarga yang ujungnya  bukan korupsi. Karenanya politik dinasti ujungnya pasti korupsi,” kata pengamat politik dari Universitas Bosowa  (Unibos), Dr Arief Wicaksono, Selasa (3/11/2020).

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unibos ini, ketika oligarki mewujud di Pilkada, tujuan utamanya  adalah penguasaan sumber daya. Sebab sumber daya apapun bentuknya sangat dibutuhkan dalam menjalankan  strategi politik.

“Saran saya jika masyarakat Pasangkayu ingin melihat kepemimpinan daerah menjadi lebih sehat, maka harus  ada kesadaran bahwa politik dinasti tidak baik bagi demokrasi, bagi pembangunan daerah dan bagi kesejahteraan  masyarakat. Harus ada kelompok masyarakat yang concern memberikan edukasi kepada publik di Pasangkayu,”  tandasnya.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Dr Hidayat Muallim sependapat. Menurutnya politik dinasti  kontraproduktif terhadap semangat demokrasi yang sehat.

“Pilkada bukannya mengurangi oligarki politik, malah memperkuat politik dinasti. Padahal secara prinsip substansi  demokrasi, politik dinasti cenderung kontraproduktif karena sarat KKN (korupsi kolusi dan nepotisme),” tegas  Hidayat.

Hidayat mengutip hasil survei PT Pedoman Suara Indonesia mengenai persepsi masyarakat Pasangkayu terhadap  politik dinasti pada awal Oktober 2020 lalu.

Berdasarkan survei itu, 59,3 persen masyarakat Kabupaten Pasangkayu tidak setuju dengan praktik politik dinasti  yang dilakukan petahana bupati, Agus Ambo Djiwa. Hanya 20,4 persen yang setuju dengan politik dinasti klan  Ambo Djiwa. Dan 2,5 persen yang ragu-ragu antara setuju atau tidak.

“Hasil survei membuktikan bahwa di daerah terpencil seperti Kabupaten Pasangkayu sekalipun, terjadi keresahan  masyarakat terhadap politik dinasti,” imbuhnya. (mah)