MAROS, Upeks.co.id – Kuota haji reguler Kabupaten Maros untuk musim haji 1448 Hijriah/2027 Masehi ditetapkan sementara sebanyak 463 jemaah. Jumlah itu berkurang 165 orang dibanding kuota musim haji 2026 yang mencapai 628 jemaah.
Informasi tersebut disampaikan dalam kegiatan penerimaan jemaah haji 2026 sekaligus pembinaan calon jemaah haji 2027 di Masjid Agung Maros, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan itu dibuka Bupati Maros Chaidir Syam dan dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan Ikbal Ismail serta Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros Ahmad Ihyadin.
Suasana acara tampak semarak. Jemaah haji yang baru tiba dari Tanah Suci mengenakan batik biru, sedangkan calon jemaah haji 2027 hadir dengan pakaian serba putih.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulsel, Ikbal Ismail, menjelaskan kuota haji Maros tahun depan memang mengalami penurunan. Namun, angka tersebut belum bersifat final karena pemerintah masih menyusun penetapan kuota haji nasional.
“Masih ada kemungkinan bertambah,” ujarnya.
Menurut Ikbal, pembagian kuota kini sepenuhnya didasarkan pada jumlah daftar tunggu di masing-masing daerah. Daerah dengan jumlah pendaftar lebih banyak akan memperoleh alokasi kuota yang lebih besar.
Ia menyebutkan kuota haji Sulawesi Selatan tetap sebanyak 9.630 jemaah. Hanya saja, distribusi kuota di tingkat kabupaten dan kota disesuaikan dengan jumlah waiting list masing-masing daerah.
Selain kuota reguler, Maros juga memperoleh alokasi khusus untuk jemaah lanjut usia sebanyak 10 orang.
“Kuota lansia tetap diprioritaskan sebesar lima persen,” katanya.
Ikbal mengatakan persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2027 telah dimulai lebih awal karena tahapan dari Pemerintah Arab Saudi berlangsung lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Pihaknya telah meminta seluruh kantor Kementerian Haji dan Umrah kabupaten/kota mempersiapkan jemaah, termasuk menghadapi tahapan pelunasan biaya haji yang akan segera dimulai.
Ia juga mengungkapkan penyelenggaraan ibadah haji 2026 secara umum berjalan lancar. Meski demikian, evaluasi tetap dilakukan, terutama pada aspek kesehatan jemaah.
Selama musim haji 2026, tercatat 25 jemaah asal Sulawesi Selatan meninggal dunia, meningkat dibanding musim haji sebelumnya yang berjumlah 22 orang.
Karena itu, pemerintah akan memperketat persyaratan istitaah kesehatan agar jemaah yang berangkat benar-benar memenuhi syarat kesehatan.
Ikbal mengimbau calon jemaah haji 2027 mulai mempersiapkan diri sejak sekarang dengan menjaga kondisi fisik, menyiapkan biaya pelunasan, serta meluruskan niat beribadah.
Terkait usulan kenaikan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2027, ia menegaskan angka yang beredar saat ini masih sebatas usulan dan belum menjadi keputusan resmi pemerintah karena masih akan dibahas bersama DPR RI.
Sementara itu, Bupati Maros Chaidir Syam menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kepulangan jemaah haji asal Maros dengan selamat.
Ia berharap seluruh jemaah memperoleh predikat haji mabrur dan mampu menjadi teladan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Menanggapi penurunan kuota haji Maros pada 2027, Chaidir berharap pemerintah pusat masih menambah alokasi kuota setelah penetapan nasional dilakukan.
Ia juga mengajak calon jemaah untuk tetap mempersiapkan diri, menjaga kesehatan, memperdalam manasik, dan bersabar menunggu jadwal keberangkatan.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros, Ahmad Ihyadin, mengatakan dari 628 jemaah yang diberangkatkan pada musim haji 2026, sebanyak 626 orang telah kembali ke Maros.
“Dua jemaah meninggal dunia di Makkah setelah pelaksanaan wukuf,” katanya.
Ia merinci, jemaah yang kembali terdiri atas 408 laki-laki dan 218 perempuan.
Untuk musim haji 2027, Maros juga mendapat kuota 10 jemaah lanjut usia. Jemaah lansia tertua berusia 91 tahun, sedangkan yang termuda berusia 84 tahun.
Ihyadin menambahkan, kualitas pembinaan calon jemaah akan ditingkatkan melalui pelaksanaan manasik sebanyak 40 kali pertemuan. Rinciannya, 20 kali dilakukan secara daring melalui Zoom dan 20 kali secara tatap muka di Masjid Agung Maros maupun Aula PLHUT.
Pola tersebut diterapkan secara bergantian setiap pekan agar calon jemaah tetap mendapatkan pembinaan maksimal tanpa merasa kelelahan mengikuti kegiatan setiap minggu.(rls)

