Mencari Nahkoda HADIN: Antara Akademisi, Korporasi, dan Masa Depan Kemandirian Universitas

Mencari Nahkoda HADIN: Antara Akademisi, Korporasi, dan Masa Depan Kemandirian Universitas

Oleh: Rusli Siri

MAKASSAR, UPEKS.Co.id– Universitas di abad ke-21 tidak lagi cukup hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian. Perguruan tinggi dituntut menjadi pusat inovasi, kewirausahaan, dan penggerak ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Dalam konteks tersebut, keberadaan holding company universitas menjadi instrumen strategis untuk menghubungkan dunia akademik dengan dunia usaha.

Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui PT Hadin Metavisi Akademika (HADIN) sedang berada pada momentum penting.

Proses pencarian Direktur Utama HADIN bukan sekadar agenda pengisian jabatan, tetapi merupakan penentuan arah masa depan kemandirian ekonomi universitas. Siapa pun yang akan memimpin HADIN ke depan akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibanding sekadar mengelola sebuah perusahaan.

Ia akan menjadi arsitek transformasi ekonomi kampus. Perguruan Tinggi dan Tantangan Kemandirian Finansial Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), Universitas Hasanuddin memiliki kewenangan yang lebih luas dalam mengelola sumber daya dan mengembangkan unit usaha.

Namun, di balik otonomi tersebut terdapat tantangan besar, yakni bagaimana menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan tanpa terlalu bergantung pada uang kuliah tunggal (UKT) dan dukungan anggaran pemerintah.

Di berbagai negara maju, universitas besar memperoleh sebagian besar pendapatannya dari investasi, pengelolaan aset, dana abadi, royalti kekayaan intelektual, spin-off perusahaan teknologi, hingga bisnis komersial yang dikelola secara profesional. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi.

Dalam konteks Indonesia, holding company universitas menjadi salah satu instrumen yang dapat menjembatani kebutuhan tersebut.

HADIN memiliki peluang untuk menjadi motor penggerak komersialisasi hasil riset, pengelolaan aset produktif, pengembangan startup berbasis kampus, hingga penguatan jejaring industri nasional dan global.

HADIN Bukan Perusa iyhaan Biasa

Banyak yang masih melihat HADIN sebagai perusahaan milik universitas yang tugas utamanya mencari keuntungan/laba. Pandangan ini terlalu sempit. Sebagai holding company, HADIN sesungguhnya memegang fungsi yang jauh lebih strategis.

Pertama, HADIN harus menjadi pusat integrasi seluruh unit bisnis yang dimiliki universitas. Kedua, HADIN harus mampu mengubah hasil penelitian menjadi produk dan layanan yang bernilai ekonomi. Ketiga, HADIN harus menjadi instrumen investasi yang mampu meningkatkan nilai aset universitas secara berkelanjutan.

Dengan kata lain, ukuran keberhasilan HADIN bukan hanya laba tahunan, melainkan kemampuannya menciptakan ekosistem bisnis l menopang keberlanjutan universitas dalam jangka panjang.

Kriteria Direktur Utama yang Dibutuhkan
Pertanyaan penting yang muncul adalah: siapa sosok yang paling tepat memimpin HADIN?

Sebagian pihak mungkin berpendapat bahwa posisi tersebut harus diisi oleh profesional korporasi yang berpengalaman mengelola perusahaan besar. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Pengalaman bisnis memang menjadi faktor penting dalam mengelola holding company.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. HADIN berada di dalam ekosistem perguruan tinggi. Oleh karena itu, Direktur Utama HADIN harus memiliki kemampuan menjembatani dua dunia yang sering kali berbeda: dunia akademik dan dunia bisnis.

Direktur Utama HADIN idealnya memiliki empat kompetensi utama.
Pertama, kemampuan strategis dalam membaca peluang bisnis masa depan.
Kedua, kemampuan korporasi dalam mengelola investasi, risiko, dan portofolio usaha.

Ketiga, kemampuan memahami budaya akademik dan proses hilirisasi riset.
Keempat, kemampuan membangun kolaborasi dengan pemerintah, industri, investor, alumni, dan masyarakat.
Kombinasi kompetensi tersebut jauh lebih penting dibanding sekadar pengalaman administratif atau jabatan struktural semata.

Saatnya HADIN Menjadi “Danantara Kampus”

Pemerintah Indonesia saat ini tengah mengembangkan model pengelolaan investasi nasional melalui Danantara. Konsep yang sama sesungguhnya dapat diadaptasi dalam skala perguruan tinggi.
HADIN tidak boleh hanya menjadi pengelola unit usaha.

HADIN harus bertransformasi menjadi institusi investasi dan pengembangan bisnis kampus.
Bayangkan jika seluruh hasil riset unggulan Unhas di bidang pertanian, perikanan, kesehatan, energi, kecerdasan buatan, dan ekonomi kreatif dapat dikembangkan menjadi perusahaan-perusahaan baru yang dikelola secara profesional. Bayangkan jika alumni, investor, dan industri dapat berkolaborasi melalui HADIN untuk membangun startup berbasis inovasi kampus.

Pada titik itu, HADIN tidak lagi sekadar perusahaan universitas, tetapi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.

Kepemimpinan yang Dibutuhkan

Ke depan, HADIN memerlukan pemimpin yang tidak hanya mampu menyusun laporan keuangan dan mencapai target laba. HADIN membutuhkan pemimpin yang mampu membangun visi besar.
Pemimpin tersebut harus mampu melihat universitas bukan sebagai lembaga pendidikan semata, tetapi sebagai pusat penciptaan nilai ekonomi berbasis pengetahuan.

Ia harus berani melakukan transformasi, membangun budaya profesional, memperkuat tata kelola perusahaan yang baik, dan mengembangkan model bisnis yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Lebih dari itu, ia harus mampu menginspirasi seluruh sivitas akademika bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga dapat menciptakan kesejahteraan, lapangan kerja, dan kemajuan bangsa.

Penutup
Pemilihan Direktur Utama HADIN sesungguhnya adalah momentum menentukan arah masa depan Universitas Hasanuddin. Jika dikelola secara profesional, HADIN berpotensi menjadi model holding company perguruan tinggi terbaik di Indonesia Timur, bahkan menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan bisnis kampus.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar seorang direktur utama, melainkan seorang nahkoda transformasi yang mampu membawa HADIN menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemakmuran.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukanlah siapa yang akan memimpin HADIN, tetapi siapa yang mampu menjadikan HADIN sebagai lokomotif kemandirian ekonomi Universitas Hasanuddin menuju Indonesia Emas 2045.(**)