Pengamat: Ni’matullah Masih Dominan Jelang Musda Demokrat Sulsel

Pengamat: Ni'matullah Masih Dominan Jelang Musda Demokrat Sulsel

MAKASSAR, UPEKS— Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026, dinamika internal partai mulai menghangat.
Ketua DPD Demokrat Sulsel, Ni’matullah, disebut telah menyampaikan surat kepada DPP Partai Demokrat terkait kesiapan pelaksanaan Musda.

Di tengah proses persiapan tersebut, dukungan kepada Ni’matullah untuk kembali memimpin Demokrat Sulsel terus menguat.

Bacaan Lainnya

Ia mengklaim telah mengantongi dukungan tertulis dari 23 ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat kabupaten/kota di Sulawesi Selatan untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Dari perspektif sosiologi politik, fenomena ini menunjukkan bahwa struktur organisasi masih memainkan peran penting dalam menentukan arah kontestasi internal partai.

Dukungan mayoritas DPC tidak hanya mencerminkan preferensi politik elite daerah, tetapi juga menggambarkan kuatnya modal sosial dan jaringan politik yang dibangun Ni’matullah selama memimpin Demokrat Sulsel sejak 2017.

Pengamat Sosiologi Politik Universitas Negeri Makassar (UNM), Bahrul Amsal, menilai kemunculan figur yang masih relatif muda seperti Andi Muzakkir Aqil sebagai penantang membuat kontestasi Musda semakin menarik. Namun, menurutnya, posisi Ni’matullah masih relatif lebih kuat.

Andi Muzakkir Aqil sendiri tergolong kader baru di Partai Demokrat. Ia bergabung menjelang Pemilu Legislatif 2024 dan kemudian terpilih sebagai anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulsel II yang meliputi Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Wajo, Soppeng, Bone, Sinjai, dan Bulukumba.

Meskipun Andi Muzakkir Aqil memiliki visibilitas politik yang kuat di tingkat nasional melalui posisinya sebagai anggota DPR RI, modal politik yang dimiliki Ni’matullah dalam konteks internal partai di Sulawesi Selatan relatif lebih kokoh.

Menurut Bahrul, keunggulan Ni’matullah tidak semata-mata terletak pada jabatan formal yang diembannya, melainkan pada akumulasi relasi sosial, pengalaman organisasi, dan jaringan politik yang telah dibangun selama hampir satu dekade memimpin partai di tingkat provinsi.

“Beliau telah membangun jaringan organisasi yang tersebar di 24 kabupaten/kota serta mengakumulasi hubungan sosial dan kepercayaan politik yang cukup mendalam dengan para ketua DPC. Faktor tersebut menjadi modal institusional yang sulit ditandingi dalam kontestasi kepemimpinan daerah partai,” jelasnya.

Dalam kajian sosiologi politik, kata Bahrul, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai dominasi modal organisasi dan modal relasional yang dimiliki petahana.

“Seorang pemimpin yang telah lama berinteraksi dengan struktur partai biasanya memiliki legitimasi yang lahir dari hubungan personal, loyalitas kader, serta rekam jejak dalam mengelola konflik dan konsolidasi internal,” ujarnya.

Di sisi lain, kemunculan Andi Muzakkir Aqil juga menunjukkan adanya dorongan regenerasi dalam tubuh Partai Demokrat. Kehadiran figur muda dengan posisi strategis di tingkat nasional berpotensi menjadi representasi perubahan sekaligus modernisasi kepemimpinan partai.

Namun demikian, Bahrul mengingatkan bahwa dalam kontestasi internal partai, popularitas di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan politik di tingkat organisasi.

Struktur partai dan jaringan kader tetap menjadi faktor penentu yang sangat penting.
Ia menilai dukungan dari 23 DPC kepada Ni’matullah menjadi indikator bahwa mayoritas elite Demokrat di daerah masih menginginkan kesinambungan kepemimpinan.

“Dukungan tersebut juga menunjukkan bahwa jaringan politik yang dibangun Ni’matullah selama ini masih berfungsi secara efektif,” ujarnya.

Secara sosiologis, tambah Bahrul, Musda Demokrat Sulsel tidak hanya menjadi arena perebutan jabatan ketua, melainkan juga memperlihatkan pertarungan antara logika regenerasi dan logika kontinuitas organisasi.

Jika kubu pembaruan bertumpu pada figur serta gagasan perubahan, maka kubu petahana mengandalkan kekuatan jaringan, pengalaman organisasi, dan hubungan emosional yang telah terbentuk dalam waktu panjang.

Dengan peta dukungan yang mengarah kepada mayoritas DPC, Ni’matullah saat ini masih menjadi figur paling dominan dalam kontestasi Musda Demokrat Sulsel. Namun, Bahrul menilai kehadiran penantang dari kalangan muda tetap menjadi elemen penting dalam menjaga dinamika demokrasi internal partai.

“Namun, kehadiran penantang dari kalangan muda tetap memberi warna tersendiri dan menunjukkan bahwa dinamika demokrasi internal partai masih berjalan di tubuh Demokrat Sulawesi Selatan,” tutupnya. (jir)