Tragedi Karunrung 1995, Pembantaian Satu Keluarga yang Menewaskan Pengganti ART

Tragedi Karunrung 1995, Pembantaian Satu Keluarga yang Menewaskan Pengganti ART

Rumah korban pembantaian Ahmadi dan keluarga di Karunrung Rappocini, Maret 1995 Silam. Hingga kini masih diperbincangkan warga.–dokinternet–

Makassar, Upeks–Tragedi pembunuhan 12 Maret 1995 silam, hingga saat ini masih meninggalkan luka mendalam.

Bacaan Lainnya

Pasalnya, peristiwa yang terjadi 30 tahun silam ini telah menewaskan satu keluarga yang bertempat tinggal di daerah Karunrung, tepatnya Kelurahan Karunrung Kecamatan Rappocini Kota Makassar.

Satu keluarga yang tewas dalam pembantaian tersebut adalah Achmadi (34) kepala keluarga, istrinya Cecilia alias Syamsiah (30), keempat anak mereka Mashita (10), Andrianto (9), Indrawan (4), dan Lizanti (3), serta seorang asisten rumah tangga (ART) bernama Piddi (12).

Peristiwa sudah berlalu puluhan tahun, namun mereka yang menjadi saksi dan mengetahui persis kejadian itu menyimpan luka, dan tidak pernah hilang dari ingatannya peristiwa berdarah tersebut.

Beragam cerita muncul bagi para saksi. Seperti dituturkan Hj. Dartati Mahudar, perempuan yang kini berusia 52 tahun menuturkan, saat kejadian usianya terbilang masih muda sekitar 24 tahun.

Ia melihat langsung di rumah korban, darah berceceran dari tubuh mayat dibalik kaca jendela.

Dia terperangah dan kaget, apalagi kondisi rumah sekelilingnya sangat sepi. Hal ini terjadi, setelah warga mengetahui ada pembantaian, warga enggan keluar rumah.

“Banyak warga takut keluar rumah setelah mendengar pembantaian tersebut,” ujar Dartati, seraya menyebut kondisi tempat kejadian perkara (TKP) sangat sepi dari lalu lalang warga.

Ketakutan warga bertambah, setelah melihat ada bayangan menyerupai hantu di area rumah korban. Saat dilakukan rekonstruksi oleh kepolisian, warga pun masih enggan keluar rumah.

Namun, besarnya keinginan mengetahui apa yang terjadi dan siapa pelakunya, membuat warga memberanikan diri keluar rumah dan mendekati lokasi pembantaian.

“Tidak ada yang berani ke rumah. Nanti saat konstruksi kejadian oleh pihak kepolisian warga mulai berani keluar rumah,” tutur Hj Dartati.

Lain Dartati, lain pula Jumriah (54). Saksi mata tewasnya pembantu Ahmadi dan keluarga.

Dikatakan Jumriah, usianya masih 24 tahun saat peristiwa naas itu terjadi.

Dia mengetahui ada pembantaian menjelang magrib. Saat itu, pembantu di rumah Ahmadi, tidak datang seperti biasanya sehingga diganti oleh adiknya bernama Piddi.

Namun hingga petang hari, sang adik pembantu itu belum juga pulang. Membuat sang ibu mulai cemas, karena biasanya ia sudah tiba di rumah sebelum waktu salat tiba.

Melihat kondisi ini, Jumriah memutuskan untuk mendatangi rumah keluarga Ahmadi, mencari tahu gerangan Piddi.

Saat mendekat rumah Ahmadi, suasananya sepi, ketika mengintip di pintu ditemani ibu sang anak pembantu, dia kaget melihat banyak darah berceceran di lantai.

Di tengah suasana batinnya yang kaget, mereka memanggil warga sekitarnya atas kondisi yang dilihatnya.

Tujuh mayat yang bergelimpangan dengan ceceran darah di tubuhnya, berada di ruang tamu. Hal ini diungkapkan Ria Amir (52). Bahkan, ia melihat, ada mayat ada dibuang di sumur, belakangan diketahui anak perempuan dari Ahmadi, beserta istri Ahmadi dan Ahmadi sendiri.

“Sedangkan anak sulungnya perempuan ditemukan di atas kamar lantai 2, sedangkan pembantunya ditemukan tewas di kamar mandi, sedang dua anak laki laki Ahmadi ditemukan di sumur rumah sebelahnya,”tuturnya.

Setelah pihak kepolisian tiba di lokasi, Ketujuh korban dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Peristiwa memilukan ini baru diketahui warga jelang magrib. Padahal, kejadiannya sekira pukul 10.00 Wita.

Tidak hanya terkait penampakan seperti hantu, saat reka ulang kejadian yang dilakukan pihak kepolisian. Terjadi peristiwa aneh, seorang anak terkena peluru nyasar. Peluru anggota TNI tersebut lepas dari senjatanya tanpa sengaja.

Hal ini dituturkan saksi mata lainnya bernama Asriani (43) warga Jalan Karunrung.

Kasus pembantaian keluarga Ahmadi tahun 1995 masih menjadi misteri yang belum terungkap sepenuhnya. Motif pelaku, identitas pasti, serta rangkaian kejadian pada hari naas itu terus menjadi bahan pembicaraan dan spekulasi warga.(*)