MAKASSAR, UPEKS.co.id— Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Sulawesi Selatan unjuk gigi di ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Keikutsertaan dalam pameran yang digelar Bank Indonesia tersebut membuahkan transaksi penjualan mencapai Rp1,028 miliar.
Capaian itu berasal dari transaksi UMKM Sulsel selama rangkaian KKI 2026, dengan Rp215 juta diperoleh dari pameran luring dan Rp813 juta dari pameran online.
Tak hanya mencatatkan transaksi, keikutsertaan UMKM Sulsel dalam KKI 2026 juga membuka akses lebih luas terhadap pasar nasional dan global. Sejumlah pelaku usaha mendapat kesempatan memperkenalkan produk, sekaligus membangun jejaring dengan calon mitra dan pembeli dari berbagai negara.
Sebanyak tiga UMKM wastra asal Sulsel tampil dalam pameran luring. Ketiganya yakni Losari Silk dan Arni Kurnia Silk dari Kabupaten Wajo serta Pio Etnik dari Toraja Utara.
Sementara itu, 21 UMKM Sulsel lainnya turut ambil bagian dalam pameran KKI Online. Produk yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari wastra, ready to wear (RTW), makanan dan minuman olahan, kopi hingga produk kriya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, pihaknya terus mendorong UMKM binaan untuk memanfaatkan berbagai ruang promosi dan akses pasar yang tersedia melalui KKI.
Kegiatan tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing UMKM agar mampu berkembang dan naik kelas.
Selain pameran, peluang ekspor juga terbuka bagi UMKM Sulsel melalui Business Matching (BM) ekspor. Sebanyak tujuh UMKM binaan KPwBI Sulawesi Selatan mengikuti 15 sesi BM dengan melibatkan 10 buyer atau aggregator.
Dari rangkaian pertemuan bisnis tersebut, tercatat enam Letter of Intent (LoI) dengan potensi transaksi ekspor sebesar Rp380,75 juta.
Sejumlah kesepakatan di antaranya berasal dari produk kopi Sulsel dengan mitra pasar di Kanada, Singapura dan Amerika Serikat. Produk lainnya juga memperoleh peluang kerja sama dengan mitra di Singapura.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa KKI tidak hanya menjadi ajang promosi produk UMKM, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju pasar yang lebih luas.
Bagi UMKM Sulsel, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat branding, memperluas jejaring bisnis dan membuka peluang ekspor.
Secara nasional, KKI 2026 juga mencatat kinerja positif. Hingga 22 Agustus 2026, penjualan sementara mencapai Rp144,2 miliar, meningkat 46 persen dibandingkan capaian 2025.
Business Matching ekspor secara nasional mencapai Rp169,9 miliar dengan melibatkan 192 UMKM dan pembeli dari 16 negara. Sementara BM pembiayaan mencapai Rp285 miliar, meningkat 30,3 persen dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir.
KKI 2026 melibatkan lebih dari 1.860 UMKM dari seluruh Indonesia. Hampir 560 UMKM mengikuti pameran secara luring dengan menampilkan berbagai produk unggulan, mulai dari wastra, ready to wear, makanan dan minuman, home decor hingga karya kreatif generasi muda.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, mengatakan pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui promosi dan transaksi. Menurutnya, UMKM membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan agar dapat terus tumbuh, tangguh dan memiliki daya saing.
“UMKM perlu mempunyai ekosistem yang menjadi tujuan berkelanjutan agar tumbuh, tangguh, dan berdaya saingnya UMKM Indonesia terus berlangsung,” ujar Aida dalam Seremoni Penutupan KKI 2026 di JICC Jakarta, Minggu (23/8).
Ke depan, berbagai peluang dan jejaring yang diperoleh UMKM Sulsel selama KKI 2026 akan ditindaklanjuti melalui program pengembangan UMKM di daerah.
Penguatan akses pasar, pembiayaan, inovasi dan jejaring bisnis diharapkan semakin mendorong UMKM Sulsel naik kelas, memperluas penetrasi pasar nasional dan meningkatkan peluang menembus pasar global. (eky)

