MAKASSAR, UPEKS — Kekerasan di dunia pendidikan tidak selalu meninggalkan luka secara fisik. Ejekan, bullying, merendahkan, hingga kekerasan verbal lainnya juga dapat meninggalkan dampak serius bagi perkembangan anak.
Karena itu, Kementerian Agama Kota Makassar mendorong seluruh madrasah untuk memperkuat pengawasan dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, H. Muhammad, saat menjadi narasumber dalam Kampanye Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan bertema “Stop Kekerasan, Lindungi Anak, Wujudkan Pendidikan Bermartabat” di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Boulevard Makassar, Minggu (9/8/2026).
“Kami di Kementerian Agama akan terus memberikan dukungan kepada para guru, penyuluh, dan tokoh-tokoh agama untuk bahu-membahu mengampanyekan berbagai persoalan yang sering terjadi di masyarakat, termasuk hoaks, bullying, dan berbagai bentuk kekerasan,” ujar H. Muhammad.
Menurutnya, perhatian terhadap kekerasan di madrasah tidak boleh hanya tertuju pada kekerasan fisik. Justru, kekerasan verbal yang kerap dianggap sebagai candaan harus menjadi perhatian serius.
“Di madrasah, kekerasan yang sering muncul lebih banyak dalam bentuk verbal, seperti saling mengejek dan bullying. Karena itu, kepala madrasah dan pengawas harus terus melakukan pembinaan dan memastikan lingkungan madrasah benar-benar ramah bagi anak,” katanya.
Ia menegaskan, persoalan kecil yang muncul di lingkungan pendidikan tidak boleh dibiarkan hingga berkembang menjadi konflik atau tindakan kekerasan.
“Lingkungan pendidikan harus terus dikontrol dan dievaluasi. Jangan sampai ada persoalan yang dibiarkan. Kita ingin madrasah menjadi tempat yang aman, nyaman, dan ramah bagi peserta didik,” tegasnya.
H. Muhammad juga menekankan pentingnya aturan yang jelas dalam membangun budaya disiplin di madrasah. Regulasi, kata dia, harus diperkenalkan sejak awal agar peserta didik memahami batasan perilaku serta konsekuensi dari setiap pelanggaran.
Pendidikan Harus Dibangun dengan Kasih Sayang
Founder Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC), Prof. Hj. Nur Hidayah, menyoroti sisi lain dalam pencegahan kekerasan, yakni pentingnya menghadirkan kasih sayang dalam proses pendidikan.
Menurutnya, guru tidak boleh hanya berorientasi pada proses transfer pengetahuan, tetapi juga harus mampu menghadirkan rasa aman dan perhatian kepada peserta didik.
“Guru tidak cukup hanya datang mengajar. Harus ada cinta dan kasih sayang kepada anak-anak. Kalau tangki cinta dan kasih sayang kita kosong, bagaimana kita bisa membagikannya kepada anak-anak?” ujarnya.
Ia mengingatkan orang tua dan guru agar tidak mengabaikan perubahan perilaku anak.
Anak yang tiba-tiba menjadi pendiam, sering menyendiri, menangis tanpa sebab yang jelas, atau mengalami perubahan emosi secara drastis, menurutnya, harus mendapat perhatian.
“Orang tua dan guru perlu mengenali perubahan mendadak pada anak. Ketika anak tiba-tiba diam, menyendiri, atau sedih secara berlebihan, itu bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan dan tidak boleh diabaikan,” jelasnya.
Disiplin Boleh, Kekerasan Jangan
Sementara itu, Wakil Rektor IV UIN Alauddin Makassar sekaligus Direktur Pesantren IMMIM Putra dan Dewan Pakar ICATT, Prof. H. Muhammad Amri, menegaskan bahwa gerakan stop kekerasan bukan berarti menghilangkan disiplin dalam pendidikan.
Menurutnya, disiplin tetap diperlukan. Namun, penerapannya harus dilakukan secara humanis dan tidak merendahkan martabat peserta didik.
“Disiplin tetap penting, tetapi penerapannya harus humanis. Anak perlu memahami aturan dan mengetahui konsekuensi logis ketika melakukan pelanggaran, bukan menerima hukuman fisik,” jelasnya.
Ia menilai pendekatan konsekuensi logis dapat membentuk kesadaran peserta didik bahwa setiap tindakan memiliki akibat, tanpa harus menggunakan kekerasan sebagai instrumen pendidikan. (*)

