MAKASSAR, UPEKS— Rangkaian Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 di Trans Studio Mall (TSM) Makassar tak hanya diramaikan oleh stan Dekranasda dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
Sejumlah daerah dari luar pulau juga ambil bagian, salah satunya Provinsi Aceh yang menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk memperkenalkan produk-produk unggulan daerahnya kepada masyarakat.
Stan Dekranasda Aceh menghadirkan beragam hasil karya UMKM binaan, mulai dari kain songket Aceh, kain kerawang, batik Aceh, tas khas Aceh, hingga sarung tenun yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di provinsi berjuluk Serambi Mekkah tersebut.
Pengurus Bidang Kemitraan Dekranasda Aceh, Hj Cut Aida Fitriati, mengatakan seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil karya para pengrajin dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Rombongan Dekranasda Aceh berangkat dari Banda Aceh pada 7 Juli untuk mengikuti pameran di Makassar.
Setibanya di Makassar, rombongan langsung mempersiapkan stan agar seluruh produk dapat ditampilkan pada hari pembukaan. Bahkan, sebelum proses penataan selesai, pengunjung sudah mulai berdatangan untuk melihat sekaligus membeli produk-produk khas Aceh.
Menurut Cut Aidal Fitriati, produk yang menjadi identitas utama Dekranasda Aceh adalah kain songket dan kain kerawang yang berasal dari berbagai daerah di Aceh.
“Yang unggulan kita memang khas-nya ini, kain-kain songket Aceh, ada kerawang Aceh. Memang kita Aceh itu ada 23 kabupaten. Yang kita bawa ini rata-rata dari kabupaten kota, pengrajin dari kabupaten kota,” ujarnya, saat ditemui di Stan Dekranasda Aceh, Jumat (10/7/2026).
Meski demikian, produk yang paling diminati pengunjung justru tas khas Aceh. Selama dua hari pameran, penjualannya telah mencapai sekitar 150 unit dari total 200 tas yang dibawa ke Makassar.
“Yang banyak selama ini yang pembeli itu tas Aceh. Kami bawa lebih kurang ada 200 pack, terus yang udah terlaku sekitar lebih kurang hampir 150. Inilah sisa-sisanya,” ungkapnya.
Selain tas, sarung tenun Aceh juga mulai diminati meski harganya mencapai lebih dari Rp1 juta per lembar. “Sarung ada juga sekitar 5-6 lembar baru, karena harganya tuh di atas Rp1 juta,” ujarnya.
Menurutnya, tingginya minat pengunjung menunjukkan bahwa masyarakat ingin membawa pulang produk yang benar-benar mencerminkan identitas budaya Aceh.
Selain songket, Dekranasda Aceh juga menampilkan kain kerawang khas Aceh Tengah, kain tenun benang emas dari Aceh Barat, serta batik Aceh dengan motif yang terinspirasi dari pintu rumah adat Aceh, bunga melati, dan bunga cengkih.
“Ini songket khasnya Aceh Tengah. kerawang Aceh Tengah. Terus kita ada membawa juga batik Aceh. Batik Aceh itu khas-nya pintu Aceh juga. Terus ada bunga melati, ada bunga cengkeh. Ada beberapa yang kita bawa ke sini,” sambungnya.
Ia menjelaskan, bahan yang digunakan untuk produk tekstil tersebut beragam, mulai dari sutra hingga kain viskos. Sementara itu, tas khas Aceh yang menjadi produk terlaris dibuat dari bahan benang yang dipadukan dengan material berkualitas seperti terpal premium dan parasut. (jir)

