Momen Haji 2026, UMKM di Asrama Haji Makassar Raih Berkah dari Jemaah

Momen Haji 2026, UMKM di Asrama Haji Makassar Raih Berkah dari Jemaah

MAKASSAR, UPEKS– Pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) meraih berkah tersendiri saat momen haji 1447 H/2026 M.

Setidaknya itu tampak terlihat pada puluhan tenant UMKM yang berpartisipasi di lokasi Pusat Perekonomian Haji dan Umrah di Asrama Haji Kelas I Makassar, selama penyelenggaran haji dalam kurun waktu dua bulan.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 32 tenant UMKM yang ada di kawasan Asrama Haji Sudiang hadir memenuhi kebutuhan jemaah haji, mulai dari oleh-oleh, perlengkapan ibadah, hingga layanan pendukung seperti money changer dan provider kartu komunikasi.

Kepala Asrama Haji Kelas I Makassar, H Zulkifli Hijaz, di sela-sela meninjau stand UMKM, mengatakan, tenant UMKM yang hadir menawarkan beragam jenis produk yang dibutuhkan jemaah.

“Tenant tidak hanya jual oleh-oleh atau baju, tapi juga perlengkapan haji dan umrah, money changer, hingga kartu provider,” ujarnya, Selasa (30/6/2026).

Pengembangan UMKM di Asrama Haji Makassar, kata Zulkifli, memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar mempermudah belanja jemaah.

Harapannya, jemaah haji tidak fokus belanja di luar negeri khusus di Tanah Suci sehingga dananya mengalir keluar.

“Hitungannya sederhana, kalau minimal satu jemaah belanja Rp3 juta di Asrama Haji, maka kita bisa menyelamatkan devisa negara kurang lebih Rp54 miliar,” ujarnya.

Angka itu dihitung dari total jemaah yang melalui Embarkasi Makassar yang mencapai lebih dari 16 ribu orang setiap musim haji.

Potensi ekonomi dari UMKM di kawasan Asrama Haji dinilai sangat besar karena daya beli jemaah asal Makassar dan kawasan timur Indonesia tergolong tinggi.

Ada fakta menarik, kata Zulkifli, di sekitar Masjid Nabawi Madinah, banyaknya toko menggunakan identitas Makassar atau Sulawesi
sebagai daya tarik dagang.

Bahkan, saat pulang dari Tanah Suci, jemaah membawa barang dalam jumlah besar dan itu berasal dari Makassar.

“Kargo dari Arab Saudi ke Indonesia itu cukup banyak berasal dari Makassar, artinya kebutuhan belanja jemaah memang sangat tinggi,” tandasnya.

Melihat fenomena tersebut, pihak Asrama Haji dan membuka tenant dengan melibatkan UMKM setempat. Hal ini berlangsung dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Jumlah tenant pun tidak dibatasi dan terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung.

“Siapapun pelaku UMKM yang ingin masuk dan berjualan di sini kami buka ruang seluas-luasnya. Potensi ekonominya luar biasa besar,” ungkapnya.

Beberapa produk yang banyak diminati seperti boneka unta dan sajadah bahkan sempat habis terjual, menandakan besarnya kebutuhan pasar di lingkungan Asrama Haji. Termasuk busana model “bling-bling” juga menjadi favorit jemaah.

Ke depan, pihak Asrama Haji Makassar menargetkan kawasan ini berkembang menjadi pusat oleh-oleh terbesar di Indonesia Timur.

“Dengan keterlibatan UMKM yang terus diperluas, kawasan ini diharapkan tidak hanya membantu jemaah, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi lokal secara berkelanjutan,”tandasnya.

Seorang pedagang yang ditemui, mengaku senang berjualan di Asrama Haji Sudiang. Dagangannya banyak dibeli jemaah tidak langsung pulang ke rumah alias transit.

Sepanjang fase pemulangan pada Debarkasi Makassar, jemaah haji yang transit berasal dari Sulsel, seperti Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. (**)