MAKKAH, UPEKS — Tim Petugas Pemberangkatan Ibadah Haji (PPIH) Kloter 30 UPG Embarkasi Makassar menggelar kegiatan Manasik Pra Armuzna bagi jamaah haji di Mushallah Hotel 502, Makkah Al Mukarramah, Selasa (19/5/2026) usai salat Subuh sekitar pukul 05.00 WAS.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah jamaah masih mempertanyakan konsep “murur” dan “tanazul”, termasuk surat pernyataan yang sebelumnya telah ditandatangani di daerah asal terkait penerapan kedua skema tersebut.
Pembimbing Ibadah Hj Marwah Latief menjelaskan, bahwa konsep murur bersifat kondisional dan diperuntukkan bagi jamaah risiko tinggi (risti) serta lanjut usia (lansia).
Jamaah tetap mengikuti rangkaian Armuzna bersama kloter, namun tidak turun di Muzdalifah.
“Jamaah risti dan lansia tetap bersama kami, hanya saja mereka tidak turun di Muzdalifah. Itulah yang dimaksud dengan murur,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pendataan tim kesehatan, tercatat sebanyak 112 jamaah Kloter UPG 30 masuk kategori murur.
Sementara terkait tanazul, Hj Marwah menyebut Kloter 30 UPG tidak termasuk kategori mandatory tanazul. Selain itu, lokasi hotel Raudhah yang ditempati jamaah bukan berada di wilayah Syisyah sehingga tim kloter memutuskan untuk tidak menerapkan tanazul.
“Jamaah murur yang sudah terdata nantinya akan dibadalkan lontarnya oleh tim, sementara mereka dapat beristirahat di tenda Mina yang sudah kami tinjau cukup nyaman, dilengkapi AC, tempat tidur, dan toilet yang dekat dari tenda,” ungkapnya.
Dalam arahannya kepada jamaah, Hj Marwah Latief juga memberikan penguatan spiritual menjelang puncak ibadah haji di Armuzna. Ia menyebut ibadah haji sebagai Al Jihadul Latief atau jihad yang lembut.
Menurutnya, secara fisik ibadah haji memang berat karena jamaah harus menghadapi cuaca panas, kerumunan jutaan manusia, serta rangkaian ritual yang menguras tenaga. Namun jika dimaknai sebagai perjalanan rohani dan undangan cinta dari Allah SWT, maka setiap rasa lelah akan berubah menjadi kenikmatan ibadah.
“Setiap tetes keringat adalah saksi cinta, setiap langkah kaki adalah penggugur dosa. Ruhani yang kuat akan menggendong fisik yang lemah,” tuturnya di hadapan jamaah.
Ia juga mengibaratkan fase Armuzna sebagai hari ujian dalam sebuah sekolah, sementara masa persiapan di hotel menjadi waktu belajar dan mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji.
“Alhamdulillah, kita masih diberi nafas dan kesempatan menjadi tamu Allah. Tidak semua orang bisa sampai di titik ini. Kita hadir di sini bukan karena hebat atau pantas, tetapi karena Allah memilih kita,” pungkasnya.(*)

