MAKKAH, UPEKS–Suasana Kota Makkah, khususnya di sekitar Masjidil Haram, semakin padat dengan kedatangan jemaah haji dari sejumlah negara. Tak terkecuali jemaah Indonesia, baik gelombang kedua yang datang langsung dari Tanah Air melalui Jeddah maupun jemaah yang bergerak dari Madinah.
Bagi jemaah Kabupaten Gowa yang tergabung dalam Kloter 05 UPG Embarkasi Makassar, sudah sepuluh hari berada di Kota Makkah. Setelah melaksanakan umrah wajib setibanya pada Minggu (3/5/2026), sebagian besar jemaah memilih beristirahat di hotel dan melaksanakan salat di musala Hotel Rawd Al Manasik yang berada di wilayah Sektor 3, kawasan Syisyah, sekitar tiga kilometer dari Masjidil Haram.
Jika hendak menuju Masjidil Haram, jemaah biasanya berangkat secara berombongan menggunakan Bus Shalawat.
Pada Minggu (10/5/2026) pagi waktu Arab Saudi, khusus jemaah Kloter 05 UPG tengah melakukan persiapan untuk melaksanakan umrah sunnah. Lokasi yang dituju untuk mengambil miqat adalah Tan’im.
Menurut informasi, di lokasi yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari Masjidil Haram tersebut terdapat Masjid Tan’im atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Aisyah. Masjid ini menjadi salah satu tempat miqat (permulaan ihram) favorit bagi jemaah umrah, khususnya mereka yang sudah berada di dalam wilayah Makkah.
Masjid ini berada di jalur antara Makkah dan Sarif. Nama Tan’im berasal dari lokasi yang diapit dua gunung, yakni Jabal Naim dan Jabal Na’im.
Masjid Aisyah sebagai tempat mengambil miqat tidak lepas dari peristiwa yang melibatkan istri Nabi Muhammad SAW, Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar RA. Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 240 Hijriah oleh Gubernur Makkah, Abdullah bin Muhammad bin Daud.
Masjid tersebut memiliki fasilitas yang cukup lengkap bagi jemaah yang hendak berihram. Tersedia kamar mandi bagi mereka yang ingin mandi atau berganti pakaian ihram. Tempat wudhu juga dilengkapi area duduk sehingga memberikan kenyamanan bagi jemaah. Karena itu, masjid ini hampir tidak pernah sepi.
Di sekitar masjid juga terdapat toko-toko yang menjual berbagai kebutuhan ihram, seperti kain ihram dan ikat pinggang. Jemaah pun dengan mudah menemukan air zamzam di depan masjid.
Jika tidak ada kegiatan umrah sunnah atau aktivitas tambahan lainnya, sebagian jemaah memilih beraktivitas di sekitar hotel. Bahkan, ada jemaah perempuan yang memanfaatkan waktu saat pagi hari untuk berbelanja oleh-oleh bagi keluarga di Tanah Air, seperti pakaian, parfum, tasbih, peci putih khas Tanah Suci, jam tangan, hingga cokelat.
Menariknya, cukup banyak pedagang yang menawarkan dagangannya menggunakan bahasa Indonesia dengan harga yang relatif terjangkau. Mata uang yang digunakan untuk transaksi pun tidak hanya riyal, tetapi juga rupiah. Jam tangan, misalnya, bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp50 ribu atau sekitar 15 riyal. Ada pula peci yang dijual mulai Rp10 ribu.
Jemaah memanfaatkan kesempatan tersebut sambil menyimpan tenaga menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Mumpung tidak ada kegiatan lain, kita cari oleh-oleh,” ujar salah seorang jemaah. (*)

