Bone, Upeks.co.id – Sampah itu diam. Anak-anak di SD INP. 6/75 Poleonro membuatnya bicara. Botol bekas berubah jadi karya. Kardus tua jadi hiasan bernilai. Di halaman sekolah kecil di Lamuru itu, kreativitas tumbuh bersama kesadaran menjaga bumi.
Halaman SD INP. 6/75 Poleonro tampak berbeda pada Jumat, 22 Mei 2026. Warna-warni hasil karya siswa memenuhi area sekolah. Tawa anak-anak bercampur tepuk tangan pengunjung. Di sekolah Adiwiyata Nasional itu, sampah tak lagi dipandang sebagai barang buangan.
Melalui Pameran Keanekaragaman Hayati, siswa bersama guru dan orang tua menghadirkan karya kreatif, inovatif, sekaligus edukatif. Setiap kelas memiliki stand dengan tema berbeda. Ada daur ulang sampah, keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman hewan, hingga pengelolaan sampah MBG.
Barang bekas yang sebelumnya dianggap tidak berguna disulap menjadi produk menarik dan bernilai ekonomis. Botol plastik menjadi hiasan. Kardus menjadi miniatur. Limbah rumah tangga diolah menjadi barang ramah lingkungan yang memancing decak kagum pengunjung.
Pameran itu hidup karena kerja bersama. Orang tua siswa ikut terlibat sejak awal persiapan. Guru membimbing. Komite sekolah mendukung. Anak-anak menjadi wajah utama dari kreativitas itu.
Tidak hanya menampilkan karya, para siswa juga mempersembahkan atraksi edukatif tentang pentingnya menjaga lingkungan. Mereka tampil melalui aksi teatrikal, kampanye peduli sampah, hingga pertunjukan kreatif yang mengajak masyarakat hidup bersih dan lebih bijak mengelola limbah rumah tangga.
Salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut ialah penandatanganan komitmen bersama antara pihak sekolah, komite sekolah, orang tua siswa, dan pihak puskesmas. Komitmen itu menjadi simbol kebersamaan dalam membangun budaya hidup sehat dan peduli lingkungan di sekolah.
Kepala SD INP. 6/75 Poleonro, Darliana, S.Pd., mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Ini merupakan hasil kerja keras siswa, orang tua, komite sekolah, serta bimbingan luar biasa dari masing-masing guru kelas. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan lingkungan hidup dapat diwujudkan melalui aksi nyata dan kolaborasi bersama,” ujarnya.
Sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional, SD INP. 6/75 Poleonro kini terus mempersiapkan diri menuju predikat Adiwiyata Mandiri. Pameran Keanekaragaman Hayati itu menjadi langkah penting untuk memperkuat budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah.
Salah seorang pengunjung, Sulasmi Rasyid, mengaku kagum melihat kreativitas para siswa.
“Kami sangat terinspirasi dengan langkah nyata yang dilakukan pihak sekolah. Ini sangat luar biasa. Tidak hanya mendidik siswa untuk kreatif, tetapi juga mengajarkan bagaimana mengelola sampah dengan bijak dan bermanfaat,” katanya.
Pameran itu sederhana. Tetapi pesannya kuat. Menjaga lingkungan tidak harus menunggu besar. Di SD INP. 6/75 Poleonro, perubahan dimulai dari tangan-tangan kecil yang bekerja dengan hati.(*)

