Cahaya yang Datang dari Janji yang Ditepati

Cahaya yang Datang dari Janji yang Ditepati

MAKASSAR, Upeks.co.id — Malam di pulau dulu gelap. Jalan setapak hilang setelah senja. Orang berjalan pelan, mengandalkan ingatan, bukan cahaya.

Kini lampu berdiri di tepi jalan.

Bacaan Lainnya

Di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin dan wakilnya, Aliyah Mustika Ilham, kota ini mulai bergerak ke arah laut, tidak berhenti di daratan. Tidak berhenti di jalan besar. Mereka membawa pembangunan ke pulau-pulau yang lama menunggu.

Di kecamatan kepulauan, orang tidak lagi hanya mendengar janji. Mereka melihatnya.

Permintaan itu sederhana. Penerangan jalan. Disampaikan saat Safari Ramadan. Tidak panjang. Tidak rumit. Hanya kebutuhan yang sudah lama ada.

Kurang dari sebulan, lampu dipasang.

Di Pulau Barrang Lompo, cahaya jatuh di jalan yang dulu gelap. Di Pulau Lanjukang, malam tidak lagi sepenuhnya milik bayangan. Ada 40 lampu tenaga surya berdiri. Dua puluh lima di Barrang Lompo. Lima belas di Lanjukang.

Angka itu cukup untuk membuat perubahan terasa.

Kepala Dinas Perhubungan, Muhammad Rheza, Minggu (19/4/2026), berkata ini bagian dari komitmen. Pemerataan harus sampai ke semua orang. Termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kota.

Lampu itu tidak bergantung pada jaringan listrik panjang. Ia menyimpan matahari di siang hari. Mengembalikannya pada malam hari. Sederhana. Tepat untuk pulau.

Tidak banyak kata diperlukan untuk menjelaskan dampaknya.

Orang bisa berjalan lebih lama. Anak-anak tidak cepat dipanggil pulang. Nelayan pulang tanpa tergesa. Warung tetap buka sedikit lebih lama.

Cahaya memberi waktu.

Dan waktu memberi hidup.

Pemerintah tidak berhenti di situ. Mereka berbicara tentang laut. Tentang jalur yang menghubungkan pulau ke kota. Tentang “pete-pete laut” yang akan berlayar dalam waktu dekat.

Munafri ingin ada rute yang jelas. Dari Barrang Lompo ke Lanjukang. Dari pulau ke daratan. Ia ingin orang bergerak lebih mudah. Barang ikut bergerak. Ekonomi ikut tumbuh.

Ia tidak banyak bicara. Tapi arah yang dituju jelas.

Di pulau, perhatian kecil terasa besar. Camat Kepulauan Sangkarrang, Andi Asdhar, melihatnya langsung. Ia tahu perubahan tidak datang sekaligus. Tapi ia datang.

Lampu jalan, layanan administrasi yang lebih dekat, insentif untuk tenaga kesehatan dan guru. Hal-hal yang dulu sulit, kini lebih mudah.

“Ini terasa,” katanya singkat.

Tidak perlu kalimat panjang.

Di pulau, orang tahu membedakan janji dan kerja.

Lampu yang menyala itu tidak berbicara. Tapi ia cukup terang untuk menjelaskan semuanya.(*)