ENREKANG, Upeks.co.id — Hari itu tanggal 30 September. Cuaca panas. Di Dusun Asaan, Desa Kadingeh, sekelompok orang berkumpul.
Mereka petani dan remaja. Ada tim dari universitas. Mereka datang untuk mengajarkan sesuatu.
Mereka mengajarkan cara membuat trichoderma. Dari media jagung. Itu adalah jamur yang baik. Baik untuk tanah. Baik untuk tanaman.
Ketua pelaksananya bernama Baharuddin. Dia bilang ini adalah pengabdian. Perguruan tinggi untuk masyarakat. Untuk menjawab tantangan di bidang pertanian.
Para petani mendengarkan. Mereka belajar cara membuatnya. Juga cara membuat trichokompos. Dari limbah jagung mereka sendiri. Itu sederhana. Bisa dilakukan.
“Mereka antusias,” kata Baharuddin. “Sekarang mereka juga tahu cara menjualnya secara online.”
Trichoderma, katanya, adalah mikroorganisme. Bisa mengendalikan penyakit di tanah. Bisa membuat akar tanaman jagung lebih kuat. Lebih panjang. Lebih banyak cabang. Tanaman akan menyerap lebih banyak makanan dari tanah.
Jagung akan lebih tahan. Tahan terhadap penyakit. Tahan terhadap kekeringan. Juga terhadap tanah yang kurang subur.
Dia juga bilang, ini ramah lingkungan. Bisa mengurangi pupuk kimia. Residu kimia bisa ditekan.
Seorang narasumber lain hadir. Namanya Suharman. Dari Program Studi Agroteknologi. Dia menjelaskan tentang trichokompos. Itu adalah pupuk organik. Difermentasi dengan trichoderma. Bisa menyuburkan tanah. Menyehatkan tanah.
Mustamin, Ketua Kelompok Tani, berterima kasih. Dia merasa beruntung menjadi mitra UNIMEN. Dia berharap hasil pertanian mereka meningkat. Tanaman jagung dan holtikultura lainnya.
Muhadir, dari Remaja Peduli Lingkungan, juga bicara. Dia bilang produk ini bisa dipasarkan. Kelompoknya akan membantu. Agar pendapatan petani bisa naik.
Ada tiga orang dalam tim itu. Baharuddin, Sri Rosmiana, dan Nirma. Beberapa mahasiswa juga ikut. Ada juga tim pendamping dari universitas lain. Dari Universitas Muslim Indonesia. Dipimpin oleh seorang profesor bernama Netty.
Tim itu tidak hanya memberi pelatihan. Mereka juga menyerahkan mesin. Mesin dan peralatan untuk bertani.
Hari itu berakhir. Para petakan pulang membawa pengetahuan baru. Tentang jamur, jagung, dan tanah yang lebih sehat.(sry)

