Di bawah langit panas Tanah Haram, di antara deru do’a dan langkah kaki jamaah, terbentang satu meja. Bukan hanya berisi nasi, lauk, dan sambal terasi, tapi tawa, cerita, dan solidaritas sejati.
Rompi biru langit si Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK), terselip bau antiseptik dan balsem di saku, datang tertatih usai melayani jamaah yang tersedu. Selanjutnya, duduk berdampingan dengan si Petugas Haji Daerah (PHD) yang baru saja mengepak koper-koper penuh harap dan air zamzam dalam termos warna emas.
Ketua Kloter—dengan suara tegas penuh kendali, yang katanya galak, ternyata bisa senyum manis saat memesan sambal lebih.
Sementara Pembimbing Ibadah menyuap nasi sambil mengulas makna tawaf, sembari menegaskan pada nurani. “Kita ini bukan sekadar tim, kita ini satu tubuh, satu niat.”
Tak ada kamera dan wartawan, tapi ada saksi dari langit dan Kiraman Katibin atau disering disebut Raqib dan Atid adalah malaikat pencatat segala perbuatan makhluk-Nya.
Harmoni kehidupan bukan sekadar dibicarakan, tapi dibangun dan dilakoni di atas sendok-sendok yang saling suap candaan, di sela gelas plastik yang berpindah.“Eh, itu airku!”
Isu miring dari luar itu seperti angin gurun,
kadang datang, tapi tak mengusik pohon yang akarnya kuat.
Karena di balik kelakar soal siapa yang ngopi dulu, dan rebutan sisa ayam bakar di nampan terakhir, tersimpan cinta yang tak sempat diketahui publik lewat untaian kata sang wartawan dan sorotan kamera. Tapi, telah hadir cinta dalam pelayanan, cinta dalam persaudaraan.
Mereka bukan hanya perangkat kloter, mereka saudara dalam misi, penjaga amanah yang saling menguatkan, bahkan ketika tubuh letih dan rindu kampung halaman datang menggoda.
Dan di akhir malam, saat semua kembali ke kamar masing-masing tersisa satu pesan di hati yang paham:
“Kalau makan bersama saja bisa membuat kita saling cinta, apalagi bila niat kita satu—mengantar jamaah sampai husnul khatimah di tanah mulia.”
Suhatman A Hakim
Perangkat Kloter UPG-34

