Makassar, Upeks–Sepekan penerapan tarif yang ditetapkan sesuai dengan Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 2559/XII/Tahun 2022 tentang Angkutan Sewa Khusus (ASK).
Sejumlah driver taksi online mengungkapkan adanya penurunan pesanan setelah pemberlakuan tarif tersebut.
Keluhan itu disampaikan sejumlah driver taksi online yang ditemui di Makassar, pada pekan ini.
Salah satunya, Anton, driver taksi online, mengatakan orderannya memang turun drastis sejak aplikator tempatnya bernaung sudah menyesuaikan tarif layanan ekonomisnya.
Sebagai informasi, Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 2559/XII/Tahun 2022 tentang Penetapan Tarif Angkutan Sewa Khusus Dalam Wilayah Sulawesi Selatan ini menetapkan tarif ASK dalam Provinsi Sulsel yakni tarif batas bawah sebesar Rp. 5.444,24/KM dan tarif batas atas sebesar Rp. 7.485,84/KM.
Anton menyampaikan bahwa masyarakat Makassar justru paling banyak menggunakan layanan ekonomis, seperti karyawan mall, anak sekolah atau ibu rumah tangga yang pergi ke pasar dan tujuan lainnya. Penurunan orderan ini sangat dirasakan drastis oleh Anto dan rekan-rekannya sesama driver taksi online yang menyebabkan pendapatannya pun ikut berkurang.
“Orderan makin berkurang ji, ini coba dipaksakan tarif baru, sedikit kali yang pesan karena mahal,” kata Anton ditemui awak media di Makassar, Rabu (12/2/25).
Anton bercerita, dirinya menjadi driver taksi online untuk brand aplikator hijau di Makassar sejak terjadi pandemi COVID-19. Saat itu menjadi driver taksol merupakan satu-satunya pilihan setelah dia “dirumahkan” karena ekonomi perusahaan tidak mampu membayar upah karyawannya.
Hampir 5 tahun Anton menjadi driver taksi online, dan telah menjadikan pekerjaan utamanya sampai nanti mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. Dia mengatakan, pekerjaan menjadi driver taksi online ini cukup membantu kebutuhan keluarganya dan perlahan membantunya bangkit dari keterpurukan.
Lain cerita Gita, driver taksi online dari brand kuning, dia tidak tahu kalau ada penyesuaian tarif, yang ia rasakan adalah banyak orderan sepekan ini. Apakah karena musim hujan yang melanda Makassar saat ini atau anomali yang kadang dirasakan saat liburan akhir tahun.
Bagi Gita, ia tidak masalah soal penyesuaian tarif dan akan mengikuti aturan yang berlaku di masing-masing perusahaan.
“Kita tak tahu soal perubahan tarif ini. Karena saya hanya fokus bekerja, tidak ikut-ikutan demo. Sudah ada rezeki yang atur masing-masing. Kita hargai yang mau demo silahkan yang mau bekerja juga bisa,” ujar Gita.
Driver taksi online lainnya, Yudi mengalami hal yang serupa dengan Anton. “Hape saya tidak bunyi Ji dari pagi, biasanya sudah tat tet tat tet orderan,” ujar Yudi. Ia mengaku tahu soal perubahan tarif ini dan ikut bagian dalam demo yang diadakan di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan 11 Februari lalu. Yudi mengaku inginnya perubahan tarif tapi tidak menyangka ternyata walau naik Rp 1000 – Rp 2000 sudah membuat pelanggannya kabur.
“Ah ini padahal cuma naik sedikit langsung berimbas menjadi sepi dan pindah ke aplikator lain yang belum menerapkan tarif,” tambah Yudi. Yudi berharap agar pemerintah bisa tegas kepada aplikator-aplikator lain yang belum menyesuaikan tarifnya. “Penyesuaian tarif ini harus dilakukan serentak, kalau tidak aplikator yang menerapkan menjadi rugi karena larinya pelanggan,” kata Yudi. (jar)

