Makassar, Upeks.co.id — Di tepian jalan Hertasnning, parkir sebuah gerobak sederhana. Di atasnya, api di nyalahkan. Berkobar membakar kayu, menari-nari riang, seolah ikut menyertai perjuangan hidup pemiliknya. Di balik asap tipis yang mengepul, terlihat seorang wanita dengan senyum yang tak pernah luntur, Ibu Reni.
Sejak fajar menyingsing, Ibu Reni telah memulai ritus hariannya. Jarak puluhan kilometer dari rumah ditempuh dengan semangat yang tak pernah padam. Tangannya cekatan mencungkil buroncong yang harum.
Buroncong buatan Ibu Reni bukanlah sekadar makanan. Di balik setiap gigitan, tersimpan kisah perjuangan yang panjang. Api unggun yang membakar kayu bukan hanya sumber panas, melainkan juga saksi bisu atas keuletan seorang ibu. Aroma kayu bakar yang khas menyatu dengan harum rempah, menciptakan simfoni rasa yang tak terlupakan.
“Alhamdulillah, kalau habis terjual, bisa dapat 350 ribu. Itu sudah cukup untuk jajan anak-anak,” ujar Ibu Reni dengan suara lembut. Kata-katanya sederhana, namun mengandung makna yang begitu dalam. Bagi Ibu Reni, kebahagiaan bukanlah tentang harta benda, melainkan tentang kepuasan melihat anak-anaknya tersenyum.
Setiap hari, gerobak sederhana itu menjadi pusat perhatian. Para pelanggan setia berdatangan, rela mengantre demi menikmati kelezatan buroncong buatan Ibu Reni. Ada yang datang seorang diri, ada pula yang datang bersama keluarga.
Ibu Reni tidak hanya berjuang sendiri. Ia ditemani oleh sang ibu dan suaminya yang juga berjualan buroncong di lokasi yang sama. Keduanya saling bahu-membahu, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat bagi para pelanggan.
Di senja yang perlahan merangkak, ketika langit mulai memerah, Ibu Reni akan menutup gerobaknya. Namun, semangatnya tidak akan pernah padam. Ia akan kembali ke rumah dan mengucap syukur atas rezeki yang telah diberikan.(citizen reporter: riski)

