Penulis: Moh Hatta Alwi Hamu
KAMI berdiri, rukuk kemudian sujud, di depan Baitullah. Kami menegadahkan tangan sembari bermunajat melantunkan doa-doa setelah melakukan Tawaf Wada’ – Tawaf Berpamitan pada Pemilik Baitullah ini dengan Harapan akan datang berkunjung Kembali.
Tangis pun pecah ketika langkah kaki ini perlahan – lahan berjalan mundur kemudian menjauhi Bangunan Mulia ini, dan dadapun terasa sesak tatkala langkah kecil ini keluar dari Mesjid Al Haram, kami sudah pamit sama pemilik Baitullah, saatnya kami kembali ke tanah Air, keluarga kami menanti.
Saat hendak menaiki bis yang mengantarkan kami menuju bandara King Abdul Azis, sebuah pesan singkat yang membuyarkan agenda yang telah kami atur. Pesan singkat itu menyampaikan bahwa pesawat yang kiranya kami akan naiki mengalami delay dengan no pesawat QG8514 route Surabaya ke Jeddah, sehingga pesawat tersebut otomatis berdampak pada penerbangan kami ke Makassar QG8517 mengalami delayed 3 hari, dan belum jelas kapan pastinya, dan bukan hanya travel kami, melainkan beberapa travel yang menggunakan maskapai yang sama.
Agenda yang kami sudah persiapkan mulai dari sebelum berangkat, bahkan sampai ketibaan di tanah air, namun Sang Pemilik Baitullah berkeinginan lain. Qadarullah, kami berencana, Allah berkehendak lain. Seakan akan menjawab, “Allah masih inginkan kami berada di tanah haram ini untuk mendapatkan/ mengejar keberkahan sebanyak – banyaknya di tempat kelahiran kekasihNYA Rasulullah SAW, Kota Mekkah dengan keberkahan 100.000 kali lipat pahalanya.
Walaupun kami ditempatkan daerah Aziziyah antara Mesjidil Haram dengan Arafah/ Jabal Rahmah/ Mina, kami masih bisa mengunjungi Mesjid Al Haram.
Namun di lain pihak, beberapa perusahaan baik travel maupun yang telah membooking maskapai tidak bisa tidur nyeyak akibat delayed pesawat ini. Mereka menyiapkan fasilitas yang di butuhkan tamu-tamu Allah imbas terlambatnya beberapa hari kepulangan.
Pihak lain juga sebagai jemaah, telah mengatur agenda-agenda kehidupannya dalam pekerjaan, cutinya habis, pertemuan-pertemuan yang sudah terjadwalkan, dan lain sebagainya dengan urusan duniawi.
Namun Allah SWT berkehendak lain, semuanya itu harus tertunda. “Dan Allah menjawab dalam surah Al Insirah, di dalam kesulitan ada kemudahan”. Bisa jadi ALLAH mempersulit kepulangan kita untuk Nikmat yang lebih baik lagi.
فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan.
Semuanya diberikan ujian tanpa terkecuali, pemilik travel yang sdh mengatur agenda mulai berangkat hingga kepulangan, pemilik bookingan pesawat, maskapai dan para jemaah, bahkan penerima hotel transit di Aziziyah di berikan ujian dengan komplain para tetamu Allah akan pelayanannya hingga makanan yang sering habis, semua Allah uji untuk kita renungkan.
Semoga dengan cara inilah ALLAH SWT menghapus dosa-dosa kami.
Wallahu A’lam Bishawab.
Aziziyah, 02 Sept 2024

