Memperjuangkan Kemerdekaan yang Membahagiakan

Memperjuangkan Kemerdekaan yang Membahagiakan

Penulis: Ilhamuddin (Dosen Biokimia; Psikiatri FK-Unhas)

Hari kemerdekaan tiap bangsa dirayakan dengan riang gembira untuk memperingati kemenangan perjuangan dalam pembebasan dari kekuasaan diktator. Selalu ada kisah heroik pemuda yang menjadi memori. Berikutnya, giliran sobat muda bernostalgia di masa depan, mengenang perjuangan kini melepaskan diri dari varian penjajahan yang tak pernah alpa di muka bumi.

Bacaan Lainnya

Freedom jelas lebih bermakna psikis dibandingkan fisik. Pemenjaraan fisik bagi Socrates, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, hingga Buya Hamka tidak mengubah statusnya sebagai manusia merdeka. Bilal dengan jasad budaknya, toh menjadi terhormat dengan kemerdekaannya atas kungkungan kebodohon zamannya. Demikian halnya freedom yang diresapi oleh Victor Frankl dalam kamp Nazi: Hanya tersisa satu hal yang tidak bisa diambil dari manusia, yaitu kebebasan memilih sikap terhadap kondisi apa pun berdasarkan kesadaran akan makna hidup yang diimani.

Meskipun Freud dkk menganggap free will adalah ilusi dengan pandangan deterministik biologiknya, psikologi modern yang lebih humanistik mengakomodasi ruang kebebasan pada manusia. Dengan begitu, tanggung jawab dituntut atas kebebasannya berkehendak. Menurut William James, penulis The principles of Psychology, “The ultimate freedom is knowing God”: mengenal Tuhan “Sang Maha” dan tanpa alasan mengikuti kehendak-Nya. Bagi yang punya iman, konsekuensi logis meyakini Pencipta adalah kepatuhan pada semua aturan yang ditentukan-Nya. Kemerdekaannya bermakna kebebasan dari semua bentuk hegemoni kekuasaan manusia yang eksploitatif (l’exploitation de l’homme par l’homme) dan secara simultan menjadi budak/hamba Tuhan. Ketaatan pada aturan tersebut dilakukan secara merdeka dengan rasa ikhlas dan tulus. Bukan malah menekan ego yang membuatnya lemah dan sewaktu-waktu rentan mengalami gangguan jiwa.

Manusia tentu berbeda dengan makhluk lain yang pasrah terbelenggu hukum alam. Realitas terindera menunjukkan bahwa manusia dianugerahkan kebebasan, bahkan bebas menentukan aturan. Berkuasa atas kehendak sendiri sehingga bebas mengeksploitasi dan mendominasi yang lain; Merdeka memilih penguasa atau aturan yang akan diterapkan. Akibatnya, bisa saja mendatangkan kebahagiaan atau kesengsaraan diri dan orang lain. Dengan demikian, untuk menggapai kebahagiaan, poinnya bukan ‘merdeka atas kekuasaan’, tapi kepatuhan pada kekuasaan yang menerapkan aturan membahagiakan. Sederhananya, manusia bebas memilih jalan yang menjanjikan harapan hidup bahagia di dunia dan kehidupan setelahnya.

Kebebasan sendiri memang bukanlah jaminan kebahagiaan yang justru merupakan tujuan perjuangan. Keberlangsungan hidup malah berjalan karena pengekangan oleh aturan. Ketundukan 2 atom hidrogen dan 1 oksigen pada pengikatan kimiawi melahirkan H2O yang vital bagi kehidupan. Andai ingin terus merdeka seenak udelnya, mereka bakal menjadi bibit radikal bebas yang sangat reaktif merusak tubuh. Demikianlah alam dalam keteraturannya yang diyakini oleh kaum beriman sebagai sunnatullah.

Iman mengantarkan keteguhan pada keyakinan akan orientasi hidup yang membawa kebahagiaan dan keselamatan dengan mengikuti aturan-Nya. Iman sehat memberi daya dorong ikhtiar untuk merdeka dari kedzholiman yang menyengsarakan menuju tercapainya keadilan yang menenteramkan bagi semua. Sementara kematian yang merupakan konsekuensi terberat dari suatu perjuangan diyakini sebagai takdir yang pasti. Slogan merdeka atau mati bukan kaleng-kaleng. Tanpa iman, rasionalitas kemenangan bambu runcing tak berterima.

Spirit pejuang kemerdekaan di atas mestilah diwarisi oleh para pemuda millenial. Kemerdekaan atas penjajah yang memonopoli rempah-rempah di nusantara telah dinikmati selama 78 tahun. Estafet berikutnya adalah memerdekakan kita dari tanggungan utang negara ‘28 juta per orang’, dari pinjol dan transaksi ribawi yang mencekik, dari penjajahan ekonomi oleh para kapitalis-oligarki, dari pengekangan kebebasan akademik berpendapat, ataupun dari beragam ekspresi mutasi penjajahan lainnya. Kita tentunya bakal sejahtera ketika kemerdekaan mengelola tambang migas, emas, dan lain sebagainya berhasil direbut dari penguasaan asing. Hanya saja, sebagian kita bisa dininabobokkan dengan kegembiraan tarik tambang.

Para pemuda dan kita semua yang memperjuangkan kemerdekaan yang membahagiakan kudu fokus dan konsisten vis-a-vis terhadap ideologi penjajahan. Bukan sekadar menghabiskan effort menumbangkan penjajah dan memberikan karpet merah pada penjajah berikutnya (penguasa/rezim lain), yang kemudian terus bersiklus.

Sekali lagi, kemerdekaan sejati merupakan state of mind yang sifatnya lebih internal. Bagaimanapun kuatnya kekangan eksternal, manusia merdeka tetap berpihak pada kebenaran. Tidak terpenjara oleh ketakutan sangkaan buruk imajinasi masa depan yang belum pasti. Menarik untuk menyimak rangkaian kata penyair Sulawesi Selatan, Udhin Palisuri (1948—2014):
Kemerdekaan adalah ketika hati nurani
bebas melangkah dengan gagah
bebas berkata tanpa terbata-bata.(*)