Tim PPPUD Politani Pangkep Laksanakan Pelatihan Diversifikasi Produk Olahan Gula Aren

Tim PPPUD Politani Pangkep Laksanakan Pelatihan Diversifikasi Produk Olahan Gula Aren

Tim PPPUD Politani Pangkep Laksanakan Pelatihan Diversifikasi Produk Olahan Gula Aren

Makassar,Upeks.co.id— Tim Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) Home Industri Gula Semut Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Pangkep di Kabupaten Bulukumba kembali melakukan pelatihan diversifikasi produk olahan gula aren.

Bacaan Lainnya
 

Tim PPPUD ini diketuai oleh Maryam, S. Kom., MSi, dan beranggotakan Dr. Sriwati Malle, STP., M. Kes dan Arnida Mustafa, STP., MSi  merupakan tim kolaborasi antara jurusan agribisnis perikanan dan prodi Agroindustri.

“Program ini didanai oleh dana riset dan pengabdian kepada masyarakat yang berasal dari kementerian, pendanaan berasal dari Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Penguatan Riset dan Pengembangan,” kata Maryam selaku ketua tim PPUD.

Program pengabdian masyarakat dari Politani Pangkep ini, lanjut dia, dilaksanakan dalam bentuk pendampingan berkelanjutan. Memasuki tahun ketiga, dilakukan diversifikasi produk gula aren menjadi gula semut dan gula cair aren. Perbaikan proses produksi dimulai dengan pelatihan pembuatan gula semut dan dilanjutkan dengan penganekaragamaan kemasan gula semut.

“Secara garis besar pelatihan dilakukan dengan sosialisasi pembuatan produk gula semut yang baik dengan mengimplementasikan cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB) yang dilakukan secara sederhana. Pada kegiatan ini diberikan mesin pengering untuk peningkatan kapasitas produksi gula semut yang menggunakan mesin pengering setelah tahapan kristalisasinya,” terangnya.

Tim PPPUD Politani Pangkep Laksanakan Pelatihan Diversifikasi Produk Olahan Gula Aren

Maryam mengatakan, peralatan tersebut digunakan pada pembuatan gula semut agar kadar airnya menjadi lebih rendah mengikuti standar gula semut pada umumnya. Kadar air merupakan salah satu faktor penentu kualitas dan umur simpan dari gula semut yang dihasilkan. Selain itu, pemilihan bahan baku yang cocok untuk pembuatan gula semut juga dilakukan, karena tidak semua gula merah dapat diolah menjadi gula semut.

“Jadi bahan baku yang tidak dapat diolah menjadi gula semut dapat dimanfaatkan menjadi gula cair aren. Pada kegiatan ini juga diberikan peralatan yang mendukung proses pembuatan gula cair aren yang merupakan diversifikasi produk olahan gula aren selain gula semut,” ujarnya.

Sebagai Ketua Tim PPPUD, Maryam yang merupakan dosen Agribisnis Perikanan Politani Pangkep ini, sukses melakukan koordinasi atas pelaksanaan kegiatan PPPUD tahun ketiga. Ia juga bersyukur, karena telah sampai ditahun ketiga dengan pencapaian yang luar biasa. Alih teknologi dan pendampingan yang telah kami lakukan berhasil memberikan dampak yang signifikan dan berlangsung secara bertahap pada mitra terpilih, Mama Garden.

“Dimulai pada pendampingan untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan, Administrasi pembukuan, Perbaikan diproses produksi, alih teknologi beberapa peralatan sampai pada tahapan Pengemasan. Dengan perbaikan kemasan, secara tidak langsung kami melakukan perbaikan di bagian pemasaran produk. Saat ini pengemasan telah beralih fungsi menjadi salah satu media untuk menjual produk yang dikemasnya,” ungkapnya.

Terkait dengan penganekaragaman kemasan, lebih lanjut dijelaskannya, bahwa saat ini Mitra PPPUD yaitu Mama Garden siap bersaing dengan produk sejenis. Bagaimana tidak, saat ini produk Mama Garden tersedia untuk berbagai segmentasi pasar, yaitu pasar menengah keatas. Selain kemasan lama yang telah ada sebelumnya dan tetap dipertahankan, saat ini telah dihadirkan pula kemasan lain yang dapat menjadi pilihan konsumen.

Kemasan dari toples yang dihadirkan dengan desain exclusive cocok untuk dijadikan ole-ole bagi konsumen yang berkunjung ke Kabupaten Bulukumba. Kemasan baru lain yang dihadirkan adalah kemasan standing pouch dengan ukuran 500 gram dan 1000 gram. Selain penganekaragaman kemasan saat ini juga dilakukan diversifikasi produk dari gula aren yaitu gula cair aren.

“Untuk sampai pada pemasaran internasional, biasanya persyaratan yang wajib dipenuhi oleh produsen adalah mengantongi sertifikat pangan organik yang dikeluarkan oleh pemerintah. Nah, untuk mengantongi sertifikat pangan organik pada dasarnya hal itu bukan suatu hal yang mustahil diperoleh. Dimana kita ketahui bahwa di dalam budidaya sampai pada pengolahan pasca panen gula aren,  kemungkinan adanya peranan bahan kimia sangat minim,” katanya.

Anggota tim PPUD, Dr Sriwati Malle, STP., M. KES, menyatakan bahwa saat ini dengan gula cair aren yang diproduksi oleh mama garden maka kebutuhan masyarakat akan kepraktisan penyajian dari gula aren dapat terpenuhi. Dimana, saat ini ada kecendrungan konsumen yang menuntut produk yang dapat disajikan dengan cepat.

Keistimewaan lain yang dimiliki oleh sirup aren dibandingkan dengan sirup lain adalah kekhasan rasa dan aromanya. Selain itu, sirup aren juga memiliki kelebihan dalam hal gizi dimana gula aren memiliki kandungan protein, kalsium, fosfor dan zat besi yang jauh lebih tinggi dibanding gula tebu.

Gula cair menggunakan teknologi yang cenderung lebih sederhana dibandingkan dengan pembuatan gula semut. Dimana pada proses pembuatannya nira akan berada pada tiga tahapan produk berdasarkan lama pemasakannya. Ketiga tahapan tersebut adalah gula cair, gula merah cetak yang biasanya di Desa Barugae diproduksi dalam bentuk bulatan batok kelapa dan terakhir jika dilanjutkan pada tahapan kristalisasi maka akan di peroleh gula semut atau gula merah dalam bentuk kristal kecil menyerupai gula pasir.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa gula cair aren dapat diperoleh dari bahan baku nira segar. Pengolahannya sama dengan proses pengolahan gula merah tetapi akan diangkat sebelum gula mengkristal, tetapi telah mencapai tahap dimana nira telah mendidih dan membentuk buih yang meluap-luap berwarna kuning kecoklatan diseluruh permukaan sirup dan buih tersebut semakin lama akan meluap naik.

Menurut Arnida Mustafa, STP., M.Si yang berasal dari Program Studi Agroindustri Politani Pangkep, saat ini yang menjadi permasalahan ketika alih teknologi dan pendampingan UMKM telah dilakukan biasanya akan muncul permasalahan klasik. Permasalahan tersebut, lanjut dia, adalah keterbatasan bahan baku.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi hal tersebut maka jika setiap petani yang ada di Desa Barugae, menanam pohon enau pada batas kebun mereka maka permasalahan tersebut akan teratasi lim tahun kedepan.

Menurutnya, di luar negeri produksi gula semut dilakukan oleh satu petani dalam skala besar. Karena mereka memiliki puluhan pohon aren yang berproduksi setiap hari, sementara di Desa Barugae seorang penghasil aren hanya memiliki 3 sampai 5 pohon saja. Dengan dukungan dan arahan dari pemerintah penanaman kembali bibit pohon aren ini dapat di realisasikan  tanpa hambatan yang berarti.

Kepala Desa Barugae, Khalid Mawardi  dalam sambutannya menyambut baik pelaksanaan program ini. Menurutnya meskipun program ini telah memasuki tahun ketiga pendampingan berkelanjutan tetap dinantikan demi keberlangsungan usaha gula aren didesa Barugae.

Kedatangan tim dari Politani Pangkep akan selalu dinantikan. Menurutnya selain gula aren, Desa Barugae masih memiliki sumber daya lain yang menunggu untuk dikembangkan dan memerlukan alih teknologi, diantaranya adalah buah salak, pala dan banyak lagi hasil alam lainnya, karena Desa Barugae termasuk daerah pertanian yang sangat subur dan suasana  yang masih sangat kental dengan lingkungan pedesaannya yang asri nan sejuk.

“Tanggungjawab untuk melanjutkan apa yang telah dirintis oleh tim politani pangkep adalah tongkat estafet yang saat ini dipegang oleh pemerintah desa,” ujarnya.

Sementara itu, mitra terpilih pada kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah Mama Garden yang merupakan salah satu UKM yang memproduksi gula semut di Kabupaten Bulukumba. Selain mitra terpilih, pelatihan ini juga dihadiri oleh petani-petani pengrajin gula merah di Desa Barugae.

Tujuannya, adalah petani sebagai mitra dari UKM Mama Garden dapat mengetahui bagaimana proses diversifikasi beberapa olahan gula aren hanya dengan modifikasi proses pengolahan menjadi beberapa produk yang memiliki segmentasi pasar yang berbeda.

“Setelah perbaikan di bagian produksi dan pemasaran, kami harapkan adanya pengakuan hak cipta. Dan terkait dengan hal tersebut akan kembali di fasilitasi oleh dosen Politani Pangkep, agar sampai pada tahap terbitnya hak cipta ataupun dalam bentuk paten,” harap Owner Mama Garden, Nurcahaya.

Di kesempatan ini, ia juga mengajak petani-petani penghasil gula untuk ikut memproduksi gula semut dan bersedia membelinya dengan peningkatan harga sebesar Rp10.000 per Kg dari harga pasaran gula merah saat ini. Tetapi, petani yang akan bergabung harus bersedia didampingi dalam tahapan produksi agar mutu yang dihasilkan tetap seragam. (rif)