Baznas Bone Studi Banding ke Barru

Baznas Bone Studi Banding ke Barru

Makassar, Upeks — Tim Baznas Kabupaten Bone menggelar studi banding ke Baznas Kabuapte  Barru, Jumat (13/05/22)

Kunjungan ke Baznas Kabupaten Barru terdiri dari WK 1 dan 2 BAZNAS Kab. Bone Dr. Hj. Hukmiah Husain, Lc., M.Ag dan Farida Hanafing, ST, Kepala Staf A. Ahmad Muliadi, SH serta staf A. Jamilatul Wustha, SH. Turut serta perjalanan studi banding Ketua Pengumpulan ZIS UPZ Polres Aipda Sulaeman Jemma, SH dan Ketua Pendistribusian Aipda Adrianto.

Bacaan Lainnya
 

Dalam kunjungan ini Tim Baznas Bone mengaku berlangsung sesuai harapan. Karena Bisa lebih detail melihat langsung, kenapa Baznas Kabupaten Barru menjadi pengumpul Zakat Harta terbesar di Sulawesi Selatan.

Apa yang menyebabkan pendistribusian dan pendayagunaan juga sangat besar dan maksimal? Ini menjadi pertanyaan sekaligus bikin penasaran.

Kabupaten Barru memiliki luas wilayah 1.174,72 km² dan jumlah penduduk tahun 2021 sebanyak 184.452 jiwa, dengan kepadatan 157 km/km². Jumlah penduduk yang kecil dengan angka kemiskinan yang juga kecil dengan pemasukan dana ZIS yang besar membuat saya pribadi penasaran. Saya tak habis pikir. Takjub. Saya sering mengatakan kepada pimpinan BAZNAS Barru, bahwa mereka pusing habiskan dana ZIS mereka. Masya Allah.

Sekedar perbandingan dengan jumlah penduduk kabupaten Bone tahun 2021 adalah 801.775 jiwa, terdiri atas 391.682 laki‐laki dan 410.093 perempuan. Dengan luas wilayah Kabupaten Bone sekitar 4.559,00 km2.

Dari luasan wilayah, 29 kali lipat antara Bone dan Barru. Sementara data jumlah penduduk 4,3 kali lipat. Seharusnya kita yang lebih banyak mengelola dana.

“Yaaa… Itu adalah tantangan untuk kami. Terus berusaha meyakinkan siapa saja untuk mau tunaikan zakat, infak dan sedekahnya melalui lembaga yang telah dibentuk pemerintah ini.
Semakin besar tingkat kepercayaan masyarakat kepada BAZNAS, Insya Allah semakin besar pula pemasukan yang akan berbanding lurus dengan kegiatan pendistribusian dan pendayagunaan ZIS yang tujuannya untuk membuat kehidupan mustahik (orang² yang berhak menerima zakat) menjadi lebih baik, ” kata Dr. Hj. Hukmiah Husain, Lc., M.Ag.

Tahun 1999, pemerintah melahirkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Dalam Undang-Undang tersebut diakui adanya dua jenis organisasi pengelola zakat yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk oleh masyarakat dan dikukuhkan oleh pemerintah. BAZ terdiri dari BAZNAS pusat, BAZNAS Propinsi, dan BAZNAS kabupaten/kota.

Sehingga mulai tahun 2000, BAZ telah terbentuk di Kab. Barru yang langsung dipimpin oleh AG Prof. Dr. H. Faried Wadjedy, MA hingga 2022 ini.

“Kami yang telah beberapa kali ke Barru terus saja terkesima melihat betapa banyak yang sulit dijangkau oleh akal kami. Begitu mudahnya para ASN/TNI/Polri setempat dan vertikal langsung setuju pembayaran zakat 2,5%. 100% per instansi tunaikan zakatnya dengan perantara para bendahara, ” ungkap Hj Farida Hanafing.

Para pengusaha, petani pun demikian.
Terakhir yang kami dapat infonya, sudah bukan lagi gaji pokok saja yang mereka tunaikan zakatnya, melaikan tunjangan², sertifikasi, honor² pun mereka keluarkan zakatnya.

Beberapa kali kami dengar gurutta Prof Faried mengatakan bersihkan/sucikan dengan berzakat, sebab di harta yg kita miliki itu ada hak orang lain.

Pimpinan BAZNAS Barru H. Menu Kalibu serta H. Amrullah Mamma mengantarkan rombongan Bone ke 2 peternakan sapi pemberdayaan mustahik, ke rutan tempat pemberdayaan narapidana dan pembinaan keagamaan serta ke muallaf yang telah berhasil setelah mendapat bantuan dari BAZNAS Barru.

Kepala Rutan Barru Mashuri Alwi, A.Md.IP., SH , MH dan Ka. Sub. Pelayanan Tahanan Ridwan, SH., MH langsung menyambut dengan baik dan memberikan penjelasan perihal kerja sama dengan BAZNAS Barru dalam membina para narapidana.(rls)