SIDRAP UPEKS.co.id — Peserta didik di Dusun 4 Tolopa, Desa Belawae, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.
Mereka setiap hari menggunakan rakit yang terbuat dari bambu berukuran 2×10 meter untuk menyeberangi sungai untuk pergi ke Sekolah.
Jarak sungai yang diseberangi itu sekitar 70 meter. Kendati banjir datang, anak-anak tetap menyeberang, meski membahayakan keselamatan jiwanya.
Untuk tetap bersekolah, para siswa tersebut tidak memedulikan ancaman dari derasnya air sungai.
Selain siswa, warga dusun 4 Tolopa juga menggunakan rakit tersebut untuk beraktivitas keluar masuk perkampungan yang padat penduduk itu.
Rakit tersebut merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan antara dusun 4 Tolopa dan dusun 1 Belawae.
Hasmi Sudarmi, Guru SDN 2 Belawae mengaku setiap hari pulang pergi Sekolah menggunakan rakit yang dibuat oleh masyarakat setempat.
“Sejak jembatan gantung yang menghubungkan kedua perkampungan itu putus akibat ter jangan banjir sejak tahun 2020 lalu, warga terpaksa gunakan rakit untuk menyeberang,” ungkap Hasmi.
Terpisah Ketua Divisi Hukum dan Pembelaan FPII Korwil Sidrap Umar Lau, SH saat di konfirmasi melalui ponselnya mengatakan, sangat prihatin dengan melihat murid SD ke Sekolah menggunakan rakit bambu dan menyeberangi Sungai yang cukup deras airnya,
Untuk itu, kata Umar Lau mengatakan ia meminta kepada Pemerintah Daerah untuk segera memperbaiki jembatan gantung tersebut, pasalnya ini jalan akses perekonomian warga. Apalagi bagi anak sekolah.
“Sebelum merengut korban jiwa, ia dengan tegas meminta kepada Bupati Sidrap H Dollah Mando untuk meninjau lokasi tersebut, guna untuk perbaikan ke depan,” tegas Umar Lau. (Risal Bakri)

