Produk BSI Mulai Disenangi, Pengguna BSI Mobile Melejit di Masa Pandemi

  • Whatsapp
Produk BSI Mulai Disenangi, Pengguna BSI Mobile Melejit di Masa Pandemi
BSI Mobile memudahkan dalam transaksi keuangan. (foto: dok. BSI)

Penulis: Muhammad Aking

MAKASSAR, UPEKS.co.id — Sejak pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia pada 2020 lalu, penetrasi teknologi dalam bentuk inovasi digital semakin mengakar pada seluruh sendi kehidupan manusia. Tak hanya itu, percepatan digitalisasi pada sektor keuangan juga menjadi faktor penunjang perbaikan ekonomi.

Bacaan Lainnya

Kondisi yang sama juga terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), tercermin dari Sektor Informasi dan Komunikasi yang tumbuh, bahkan menjadi salah satu pendorong perbaikan pertumbuhan ekonomi Sulsel.

Kepala KPw Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulsel, Budi Hanoto, mengakui, pandemi Covid-19 menjadi faktor utama percepatan adaptasi pada transformasi Ekonomi dan Keuangan Digital (EKD) di Indonesia, termasuk di Sulsel.

Menurutnya, transformasi EKD di Sulsel juga semakin diperkuat dengan faktor-faktor pendukung penetrasinya, antara lain populasi milenial dan Gen Z yang mencapai 5 juta penduduk, atau 55,2% dari total penduduk di Sulsel. Potensi generasi muda ini menjadi kunci keberhasilan dari ekonomi digital.

Kemudian, proyek pembangunan backbone jaringan serat optik nasional atau Palapa Ring telah final. Maka, seluruh wilayah NKRI terhubung melalui jaringan internet berkecepatan tinggi. Coverage sinyal di Sulsel sendiri telah mencapai 93,3% untuk jaringan 4G dan 3G.

“Kemudian Sulsel juga menempati urutan ke-8 sebagai Provinsi dengan pengguna internet terbanyak, yaitu sebanyak 5,8 juta orang atau 65% dari total populasinya pada tahun 2020,” katanya.

Selain itu, Sulsel juga menjadi kontributor terbesar untuk transaksi e-Commerce di KTI dengan pangsa 15,7% pada tahun 2020. Nominal transaksi terus meningkat sebesar 72,8% (ctc). Kemudian, tingkat keuangan inklusif di Sulsel mencapai 87%, di atas tingkat keuangan inklusif nasional (76%).

“Faktor-faktor ini menjadi peluang bagi Sulsel untuk giat mendorong ekonomi dan keuangan digital melalui sinergi, kolaborasi, dan optimisme yang tinggi dari Pemerintah dan para pemangku kebijakan. Ekosistem ekonomi keuangan digital yang mumpuni juga mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan inklusivitas,” katanya.

Sementara itu, Direktur KPw Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Endang Kurnia Saputra mengakui, khusus untuk digitalisasi perbankan syariah di Sulsel, saat ini baru bank sekelas PT Bank Syariah Indonesia Tbk, yang bisa bersaing dengan konvensional. “Perbankan syariah lain sebenarnya sudah cukup bagus, namun layanan digitalisasinya masih perlu ditingkatkan lagi,” katanya.

Selain itu, menurutnya, perbankan syariah juga memiliki pasar yang luas di ‘Tanah Angin Mammiri’ ini. Pasalnya, Sulsel merupakan provinsi dengan penduduk mayoritas muslim. Hanya saja, masyarakat masih perlu edukasi lantaran tidak semua paham produk perbankan syariah.

Produk BSI Mulai Disenangi, Pengguna BSI Mobile Melejit di Masa Pandemi
Nasabah dapat melakukan tarik tunai tanpa kartu kredit di atm BSI dan outlet Indomaret di seluruh Indonesia. (foto: dok. BSI)

“Dengan kondisi saat ini, pangsa pasar perbankan syariah secara bertahap sudah mulai naik secara nasional. Masyarakat juga mulai senang dengan produk perbankan syariah, seperti cicilan emas dan tabungan emas. Ini produk inovatif perbankan syariah yang saat ini cukup laris,” bebernya.

Di sisi lain, sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI telah menghadirkan inovasi digital dan modern melalui platform BSI Mobile. Inovasi digital ini hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat untuk bertransaksi dengan aman selama pandemi, sekaligus menjawab tantangan zaman yang semakin maju.

Melalui BSI Mobile, ragam kemudahan bisa nasabah temukan. Salah satunya fitur tarik tunai tanpa kartu ATM di ATM BSI dan outlet Indomaret di seluruh Indonesia.

Lewat BSI Mobile, nasabah juga bisa menabung emas, gadai emas, membayar Ziswaf hingga membeli hewan kurban. Bahkan, pengguna BSI Mobile juga dapat mengecek waktu sholat dan lokasi masjid terdekat di platform tersebut.

Untuk mendukung berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat di era digitalisasi saat ini, BSI pun bertekad melanjutkan inovasi dengan menghadirkan fitur-fitur baru lainnya di aplikasi BSI Mobile, seperti fitur Paylater dan Mitraguna Online.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia, Hery Gunardi mengatakan, perkembangan teknologi digital serta pertumbuhan jumlah pengguna smartphone di Indonesia, menjadi landasan bagi BSI untuk terus melakukan pengembangan fitur layanan pada BSI Mobile.

Menurutnya, BSI memahami kebutuhan dan tren gaya hidup masyarakat di era digital, diantaranya kemudahan akses transaksi perbankan via smartphone.

“Inovasi ini diharapkan membuat transaksi keuangan lebih cepat, mudah, dan aman sehingga nasabah tidak perlu lagi khawatir saat ketinggalan dompet atau kartu ATM dan dapat meminimalisir tingkat kejahatan di ATM, yaitu skimming sekaligus memberi rasa aman kepada masyarakat, yang saat ini sedang berjuang melawan pandemi Covid-19,” urai Hery Gunardi.

Kehadiran BSI Mobile rupanya mampu menjadi penopang kinerja impresif yang dicatatkan BSI sepanjang semester I 2021. Salah satunya, jumlah pengguna BSI Mobile per Juni 2021 telah mencapai 2,2 juta user, dan transaksi BSI Mobile juga mengalami pertumbuhan sebesar 113% secara tahunan (yoy). Sementara nominal volume transaksi di BSI Mobile mencapai Rp41,99 triliun pada periode Januari hingga Juni 2021.

Pertumbuhan yang sama juga terjadi di Regional XI BSI Makassar. Dimana tercatat pertumbuhan pengguna BSI Mobile juga cukup signifikan sepanjang semester I-2021, yakni sebesar 160 ribu user.

“Meningkat di 160 ribu posisi sekarang. Khusus untuk Provinsi Sulawesi Selatan berkontribusi sebesar 57 ribu,” ungkap Latif Komaruddin, selaku Pjs Regional CEO Region Office XI BSI Makassar. (*)

Pos terkait