Keterisian Tempat Tidur di Rumah Sakit Covid-19 Makassar Meningkat

  • Whatsapp
Keterisian Tempat Tidur di Rumah Sakit Covid-19 Makassar Meningkat

Makassar, Upeks – Keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit Covid-19 di Makassar kembali mengalami lonjakan. Angka kasus Covid-19 mengalami tren peningkatan sejak 1 Juli 2021.

Data harian posko induk info Covid-19 di Makassar mencatat kasus pada 1 Juli 2021 angka kasus Covid-19 sebanyak 138 orang. Pada hari kedua, bertambah 205, dan 3 Juli berjumlah 205. Pasien Covid-19 di Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar, Sulawesi Selatan, misalnya, mengalami penambahan pasien hingga 33 orang. Padahal, sebelumnya sempat tak ada pasien Covid-19 yang dirawat.

Bacaan Lainnya

Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Labuang Baji, Haris Nawawi mengatakan pihaknya sudah melakukan antisipasi, salah satunya memastikan ketersediaan oksigen. “Sempat tidak ada pasien Covid-19 beberapa bulan lalu tapi sekarang ada lagi, ada masuk beberapa setelah 4 orang, naik jadi 6 naik lagi 7 sampai sekarang total 33 orang,” kata Haris, Senin, 5 Juli 2021.

Stok oksigen, kata dia, masih aman lantaran rata-rata pasien bergejala ringan. Sehingga tak membutuhkan bantuan pernafasan. “Oksigen center yang tabung besar itu baru sudah diisi, terus O2 yang tabung kecil aman juga,” ungkapnya. Saat ini ada sekitar 16 tabung yang sudah disiapkan untuk pasien Covid-19. Haris mengatakan pihaknya sementara memesan 50 tabung lagi untuk berjaga-jaga.

“Rencananya datang hari ini,” ungkapnya. Senada dengan itu, Humas RSUD Daya Wisnu Maulana mengatakan selama 3 terakhir ada peningkatan pasien Covid-19.  “Minggu lalu itu cuma 2 pasien, terus Minggu kemarin lagi sempat naik 4 sampai 6 pasien bahkan 8, terus sekarang tinggal 7 pasien, jadi 5 positif 2 dan PDP,” kata Wisnu.

Wisnu mengatakan telah menyiapkan 50 tabung oksigen per hari untuk pasien Covid-19. Di sisi lain, penggunaan tabung oksigen juga digunakan pasien selain Covid-19 yang mengalami masalah dengan pernapasan.

“Tidak mesti untuk pasien Covid-19. Di RS ada namanya oksigen central jadi oksigen central itu disalurkan ke semua ruangan perawatan baik Covid-19 maupun tidak Covid-19,” ungkapnya. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, Wisnu mengatakan keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) saat ini mengalami penurunan. “Waktu awal-awal Covid-19 kita bisa tampung 35 bed penuh, jadi kita full. Tapi sekarang ini dari 35 bed yang tersedia baru terisi 7, artinya masih aman,” ungkapnya.

Sebelumnya, Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto melaporkan keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit Covid-19 sebanyak 9,9 persen. Angka ini masih jauh dari ambang batas aman BOR RS yang ditetapkan Organisasi Keseharian Dunia (WHO), yakni sebesar 60-80 persen. “Rumah Sakit Daya dari 35 tempat tidur, 3 terisi, 1 ICU. RS Dadi tadi juga begitu, cuma 5 persen, kalau laporan yang saya terima 9,9 persen dari 1400 bed di kota Makassar, hanya 40 yang terisi,” kata Danny Pomanto.

Menurutnya, ketersediaan tempat tidur di rumah sakit masih berada pada fase aman.  Di sisi lain, untuk mencegah penularan Covid-19 di masyarakat, Danny mengatakan per 1 Juli tim Detektor Covid-19 akan mulai bekerja melacak kasus dari rumah ke rumah. Pakar Epidemiologi Universitas Hasanuddin Ridwan Amiruddin menilai tindakan sederhana disiplin terhadap protokol kesehatan kelihatannya begitu berat untuk dipatuhi.

“Bila kondisi ini bertahan terus, maka tentu korban jiwa akan semakin bertambah, yang akan semakin  menambah kepiluan bangsa ini,” kata dia.

Menurutnya, tanggung jawab sosial menjadi prioritas pada situasi ini. Langkah disiplin setiap individu akan berdampak besar pada keselamatan bersama. Langkah selanjutnya adalah penguatan komunikasi risiko.

“Setiap warga memahami dengan benar langkah yang harus diambil dan atas kesadaran sendiri ikut mengambil bagian dalam menyelesaikan masalah ini, bukan menjadi bagian dari masalah yang sedang melanda,” ungkapnya.

Ia mengatakan penguatan literasi kesehatan adalah pilihan yang baik untuk membangun perspektif yang benar tentang pandemik Covid-19. Menurutnya, masih ada begitu banyak warga yang belum bersikap dan bertindak secara benar untuk mengendalikan pandemik ini. Sebab itu, pekerjaan menjadi bertambah berat.

“Kurangnya kepahaman warga terhadap pandemik covid-19. Banyak terjadi distorsi informasi yang perlu diluruskan sebagai salah satu syarat untuk bertindak secara benar,” ujar Ridwan. Ridwan menyatakan pemahaman yang keliru adalah awal dari kegagalan dalam menyelesaikan suatu masalah, termasuk dalam pengendalian Covid-19.(*)