Fenomena di Akhir Ramadan

  • Whatsapp
Fenomena di Akhir Ramadan

Penulis: Abd. Rauf, Lc

(Penghulu Ahli Madya Bontoala Kota Makassar)

Bacaan Lainnya

Ada fenomena yang sering kita saksikan di tengah masyarakat menjelang akhir Ramadhan. Fenomena itu adalah ramainya pusat-pusat perbelanjaan hingga serirng kali di gedung pusat perbelanjaan tertentu banyak pengunjung yang pingsan karena saling berdesak-desakan dalam antrian pembayaran di kasir. Sementara di masjid-masjid pada sepuluh akhir Ramadhan yang seharusnya ramai oleh jama’ah masjid untuk melaksanakan I’tikaf malah sepi, hingga terkadang shaf orang yang shalat tinggal satu dua shaf saja, padahal di awal Ramadhan bisa sampai sepuluh shaf.

Fenomena di Akhir Ramadan
Fenomena yang lain adalah fenomena mudik. Seringkali aktifitas mudik ini diwarnai dengan prilaku kekerasan di berbagai terminal atau stasiun kereta api. Jadilah masa-masa akhir Ramadhan yang seharusnya menjadi masa merah ampunan dan melepaskan diri dari api neraka, bisa berubah menjadi neraka, karena prilaku tidak terpuji orang-orang tertentu yang menjambret, mencuri, bahkan merampok para pemudik.

Fenomena di akhir Ramadhan ini menjadi semakin sempurna dengan pemahaman memeriahkan Ramadhan dilengkapi pawai-pawai keliling dengan kendaraan hias, dengan muda mudi yang saling bergoncengan dan raungan suara motor yang sengaja dilepas kenalpotnya, ditambah petasan yang berbunyi sana sini memekakkan telinga.

Tentu saja semua fenomena itu adalah fenomena yang paradox, dimana akhir Ramadhan yang seharusnya lebih khidmat, orang-orang yang berpuasa semakin khusyuk, malah cenderung kehilangan semua suasana itu. Bagaimana tidak, bulan pembinaan kesucian hati, pikiran dan pribadi terlewati. Padahal bulan Ramadhan ini adalah bulan yang sangat istimewa, pada ujungnya ditetapkan satu malam mulia yang disebut dengan ‘Lailaltul Qadar’, malam yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk dicari dan diisi dengan berbagai kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.
“Carilah malam lailatul qadar pada bilangan ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan” (HR Bukhari)

Sepatutnyalah jika hati setiap muslim senang jika diberi kesempatan untuk berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan, sehingga ia bisa memaksimalkan diri untuk bertaqarrub kepada Allah SWT. disaat sebuah pahala digandakan dengan datangnya malam Lailatul Qadar.

Setiap muslim disunnahkan beritikaf selama sepuluh hari Ramadhan. Tidak ketinggalan, kita diminta berpuasa hati, mulut, pikiran dan anggota tubuh lainnya. Sungguh bulan sempurna syahrut tarbiyah bertajuk Ramadhan. Sadar atau tidak, kita diajarkan sekaligus diminta melakukan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa) secara total di penghujung Ramadhan ini.

Di perjumpaan akhir Ramadhan ini, kita seharusnya mempersiapkan diri untuk menjadi bayi-bayi yang siap dilahirkan ke bumi yang tanpa ada dosa lagi, karena Ramadhan telah membersihkannya. Kita semua laksana kertas putih yang akan ditorehkan dengan tulisan baru dengan tinta emas, karena tulisan hitam nan kelam telah ditutup lembarannya.

Apabila kita ingin meraih manfaat besar di penghujung Ramadhan, sepatutnya yang kita contoh dan teladani adalah Rasulullah SAW. Isteri beliau ‘Aisyah menceritakan bahwa beliau memiliki amalan yang sangat mulia pada akhir-kahir Ramadhan, sebagaimana diriwayatkan pada hadis berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ»
“Dari ‘Aisyah ra berkata: “Nabi SAW apabila masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya (menjauhi hubungan suami istri), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari)