Kepala BPN Takalar Ajak Warga Jadi Pengusaha Sukses, Begini Caranya

  • Whatsapp
Kepala BPN Takalar Ajak Warga Jadi Pengusaha Sukses, Begini Caranya

Kepala BPN Takalar Ajak Warga Jadi Pengusaha Sukses, Begini Caranya

TAKALAR.UPEKS.co.id— Reforma Agraria yang berkeadilan dan menyeluruh perlukan adanya sinergi,
koordinasi dan komitmen kuat baik di tingkat pusat maupun di daerah.

Bacaan Lainnya

Berangkat dari hal tersebut, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Takalar terus menginisiasi pelaksanaannya
melalui program penataan akses reform melalui pemberdayaan hak atas tanah.

Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Takalar, Muh. Naim mengatakan, melalui program tersebut, pihaknya  tengah merancang sebuah inovasi bagi masyarakat Takalar yang memiliki aset tanah untuk dimanfaatkan menjadi  lahan peternakan produktif.

Masyarakat yang memiliki aset tanah tersebut akan dibentuk menjadi Kelompok Tani (Poktan) untuk  pengembangbiakan dan penggemukan sapi.

“Program ini sementara kami bahas dengan Pemkab Takalar, karena sejalan dengan program bantuan sapi yang  dicanangkan pak Bupati, Syamsari Kitta,” katanya.

Nantinya, lanjut Naim, Poktan yang telah terbentuk dan memenuhi syarat akan difasilitasi guna mendapatkan  bantuan permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan maksimal Rp150 juta, untuk pengadaan bibit dan  kandang sapinya.

“Satu Poktan itu bisa 7-8 orang. Jadi, mereka dibantu modal KUR Rp150 juta untuk membeli bibit sapi 100 ekor  dan bangun kandang serta pakannya,” ujarnya.

Mantan Kepala BPN Kepulauan Selayar ini mengemukakan, untuk tahun pertama sapi-sapi tersebut murni  pengembangbiakkan, belum ada hasil yang bisa dinikmati oleh peternak.

“Tapi kan ada sistem penggemukkan selama tiga bulan, jadi ini bisa dijual untuk menutupi cicilan KUR yang diambil  Poktan. Nanti tahun kedua sampai ketiga, barulah ada hasil yang akan dinikmati peternak,” ungkapnya.

Meski belum bisa menghasilkan keuntungan dalam satu tahun proses pengembangbiakkan, Naim mengatakan,  peternak tak perlu khawatir. Sebab, kotoran yang dihasilkan sapi tersebut dapat dijual untuk menutupi kebutuhan  peternak.

Nantinya, kata dia, kandang sapi dibuat miring tidak datar. Agar air seni yang dihasilkan sapi tersebut langsung  mengalir ke penampungan yang disediakan.

“Sapi itu kotorannya laku dijual. Harganya itu Rp4.000 perkilo, jika dikali 100 ekor, itu sudah Rp400 ribu per hari.  Rata-rata dalam sehari, sapi bisa buang air 4-5 kali. Jadi kalau itu saja yang menghasilkan, kan luar biasa  keuntungannya,” terangnya.

Untuk pemasaran sapi setelah proses pengembangbiakan, Naim mengatakan, akan dikerjasamakan dengan  Rumah Potong Hewan (RPH) dan warung makan khususnya Coto yang ada di Takalar. Sehingga, tidak perlu lagi  ke daerah lain untuk mencari daging sapi untuk kebutuhan usahanya.

“Sapi-sapi milik Poktan ini bukan bibit sembarang, karena kita libatkan stakeholder terkait. Mulai dokter hewan  yang memeriksa kesehatan sapi, Dinas Peternakan, Dinas Perdagangan untuk pemasarannya, serta Pemkab  Takalar jugqa kita libatkan. Termasuk Dinas PU, yang nantinya membantu mengangkut pakan ke kandang. Satu  ekor sapi itu bisa makan sampai 30 Kg, jadi kalau 100 ekor, kita siapkan 3.000 Kg per harinya,” jelasnya.

Naim mengaku, tujuan dari program tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya peternak.  Sebab, jika hanya mengandalkan pertanian, kesejahteraan petani tidak bisa meningkat.

“Kalau mengandalkan pertaniannya saja, itu hanya menghasilkan beberapa juta Rupiah. Tapi dengan program ini,  mereka bisa jadi entrepreneur (Pengusaha) ternak yang menghasilkan sekitar Rp500 juta per tahun. Misalnya,  satu ekor sapi dijual Rp10 juta dikali 100 ekor, kan bisa hasilkan Rp1 miliar. Tidak menutup kemungkinan di tahun  keempat, keuntungannya bisa begitu,” ucapnya.

Hanya saja, Naim mengaku, hasil tersebut bisa diperoleh bila dikelola dengan profesional. “Supaya sapinya tidak  kurus. Tidak ada yang mau datang beli kalau sapinya kurus, tapi kalau sapinya gemuk dan bergizi, pasti banyak  orang yang datang beli,” ungkapnya.(rif).

Pos terkait