MAKASSAR.UPEKS.co.id—Dosen Farmasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Abdul Malik sukses meraih gelar Doktor di Department of Drug Design and Pharmacology, University of Copenhagen, Denmark, Rabu (17/6/2020).
Abdul Malik kini resmi menyandang gelar PhD setelah diuji tiga guru besar, Associate Professor Clause Cornett, University of Copenhagen Associate Professor Ling Ding, Technical University, Denmark, dan Professor Elín Soffía Ólafsdóttir, University of Iceland, Iceland.
“Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus setelah pertahankan judul Thesis ‘Investigation of endophytic fungi as a source of Bioactive Constituents for Management of type 2 diabetes’,” ungkap Abdul Malik, Kamis (18/6).
Dikatakannya, setelah semua urusan selesai, kami kembali Makassar dan siap mengabdikan ilmu di kampus UMI. Apa yang diraihnya, berkat dukungan dan doa dari semua pihak. Raihan ini pula, diharapkannya menjadi hadiah khusus jelang Milad UMI ke 66.
“Terima kasih atas doa dan dukungan rektor, wakil rektor, Dekan dan seluruh Pimpinan Fakultas, Prodi, dan Lab. serta guru-guruku dan teman sejawat Dosen dan Karyawan dalam lingkup Fakultas Farmasi UMI,” ujarnya seraya mengatakan, ini jadi hadiah kecil pada Milad UMI.
University of Copenhagen, salah satu universitas dengan fasilitas yang tidak diragukan lagi. Terbukti setiap tahun menduduki peringkat 100 besar dunia.
“Sebagai mahasiswa PhD di Kongstad Lab, Natural Product Research Group, saya harus membiasakan diri dengan berbagai instrument modern untuk mendukung proses belajar mengajar dan penelitian untuk melahirkan penelitian yang berkualitas,” ujarnya.
Beberapa output penelitian miliknya selama studi berupa satu artikel telah terbit di Journal Fitoterapia dan empat dalam proses finalisasi manuskrip. Selain meneliti, pihaknya juga diwajibkan lulus sebanyak 30 ECTS atau di Indonesia dikenal sebagai SKS.
“Alhamdulillah semua bisa saya lulusi tanpa ada pengulangan. Hal yang paling menantang adalah kewajiban semua mahasiswa PhD termasuk saya mengajar di kelas mahasiswa S1. Setiap mahasiswa PhD harus mengajar setara 300 jam,” terang Abdul Malik.
“Tantangannya adalah karena saya bukan native speaker dan mahasiswanya cerdas cerdas. Tetapi berkat bantuan dan mentoring dari supervisor sebelum dan setelah mengajar, saya bisa melalui tantangan ini semua. Alhamdulillah, Rabu, 17 Juni 2020 saya dinyatakan lulus,” tuturnya.
Selama di Denmark, ia mengaku tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk. Issue SARA seperti di beberapa negara Eropa lainnya tidak terasa di tempatnya seperti yang dia rasakan.
“Jika boleh menggambarkan bahwa senyum dan kegembiraan selalu ada, bahkan dalam keadaan maupun umumnya mereka masih menghargai orang lain,” tutur Abdul Malik. (rls).

