Mahkamah Partai Tak Merestui, Supriansa: Aneh, Ada yang Nafsu Buru Kursi

Mahkamah Partai Tak Merestui, Supriansa: Aneh, Ada yang Nafsu Buru Kursi

JAKARTA, Upeks.co.id — Aneh..!itulah kalimat yang terlontar dari mulut Supriansa, calon anggota legislatif Partai Golkar Dapil 2 Sulsel yang lolos versi KPU–namun tiba-tiba digugat di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa Pemilu 2019.

Bacaan Lainnya

“Mengapa aneh? Karena Mahkamah Partai Golkar sudah mengambil keputusan bahwa caleg atas nama Supriansa tidak termasuk nama yang di rekomendasikan oleh partai Golkar ke MK dalam sidang yang di lakukan Mahkamah Partai Golkar di kantor DPP Golkar,” kata Supriansa kepada FAJAR, Sabtu 25 Mei 2019.

Supriansa digugat rekannya sesama partai Golkar Rismayani dan M Yasir. Dalam berkas perkara, termohon adalah Supriansa sebagai pemenang kursi ke dua melalui rekapitulasi KPU RI.

Dia mengaku tuduhan ini aneh dan terkesan dipaksakan karena mahkamah partai tidak merekomendasikan gugatan tersebut. “Lalu apa artinya keputusan mahkamah partai kalau akhirnya ada di MK,” katanya.

Alasan lain, tuduhan yang sama di KPU Soppeng sebagai terlapor saat rekapitulasi KPU Provinsi Sulsel yang selanjutnya di respon oleh Bawaslu Provinsi dengan melakukan sidang cepat dan hasilnya tidak terbukti. Sidang cepat Bawaslu memutuskan “Terlapor tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan melanggar tata cara, prosedur atau mekanisme pada tahapan Pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan”.

“Nah, artinya tuduhan adanya penggelembungan suara itu tak terbukti.

Olehnya itu saya berharap Ketua Umum Partai Golkar dan jajaran pengurus yang terkait agar mencari siapa pelaku yang mempermainkan hasil keputusan Mahkamah Partai itu,” kata mantan wakil bupati Soppeng ini.

Dia juga meminta oknum bermain dibalik kasus ini ditindaki, lantaran berpotensi merusak kewibawaan partai Golkar. Sudah ada putusan mahkamah partai tapi tidak dihargai. Mereka kader-kader tak bertanggungjawab. Ini harus di usut tuntas agar bisa di proses sesuai aturan yang berlaku.

“Saya merasa sudah dipermainkan. Terus terang saya diam-diam saja karena saya tahu diri, bahwa saya ini orang baru di partai Golkar, tentu tidak elok kalau saya melakukan perlawanan. Tapi karena ini sudah keterlaluan maka saya akan menempuh jalur hukum dan melaporkan secara pidana orang-orang yang sudah menyerang pribadi saya. Ibarat semut yang kecil jika terus di injak-injak maka bisa saja balik menggigit,” ungkapnya. (fajar.co.id)

Pos terkait