MAKASSAR,UPEKS.co.id— Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Sulsel, Brigjen Pol Chuzaini Patoppoi, diundang menjadi narasumber di Podcast Kolaborasi harian Berita Kota Makassar (BKM) dengan Upeks.co.id, di Ruang Podcast BKM Gedung Graha Pena.
Podcast kolaborasi dua media ternama di Makassar ini, dipandu atau host adalah Wakil Direktur Harian Ujungpandang Ekspres, Muh Akbar dan Pemimpin Redaksi Harian Berita Kota Makassar (BKM), Andi Rustam.
Saat orang nomor dua ditubuh Polda Sulsel ini di wawancarai, dia menceritakan kalau dirinya berlatar belakang orang Sulsel. Dimana ayah kandungnya adalah orang Bulukumba.
Dulu kata Patoppoi, ayahnya merantau di Tegal dan kemudian jadi Kepala Sekolah. Disana (Tegal) menjadi Kepala Sekolah Usaha Perikanan pertama di Indonesia waktu itu.
“Disitulah ketemu ibu saya. Kebetulan ibu saya orang Jawa Tengah. Saya lahir di Tegal. Hanya numpang lahir di Tegal. Setelah itu, saya kemudian pindah di Jakarta. Mulai SD, SMP dan SMA itu di Jakarta, ” ucap Wakapolda.
“Kebetulan karena ayah saya orang Sulsel, saya pernah ke Bulukumba tahun 1981. Untuk numpang sunat saja di daerah Baru Karopa, Kabupaten Bulukumba, ” sambungnya.
Wakapolda mengaku, dirinya separuh orang Sulsel dan separuh Jawa. Tetapi kalau pulang kampung misalnya waktu lebaran, kebanyakan ke Jawa. Malah tidak pernah ke sini (Sulsel). Ini juga pertama kali dinas di Sulsel.
“Jadi kalau ditanya pakai bahasa Makasar, saya tidak tahu. Karena memang saya baru tugas di sini, ” akunya kepada dua host podcast, Muh Akbar dan Andi Rustam.
Alumni Akabri 1988 ini juga menceritakan perjalanan kariernya di kepolisian. Namun awalnya, Pattopoi mengaku tidak pernah berniat untuk jadi Akabri.
“Perjalan karier saya di kepolisian itu, orang tua saya bukan keturunan Akabri ataupun militer. Cuma kakek (almarhum) saya dulu polisi zaman Jepang. Kakek dimakamkan di Sulsel. Saya tidak mengenal dunia ABRI itu, ” ucapnya.
“Kebetulan saya waktu SMA dulu, sering ada datang taruna-taruni Akabri memberikan semacam pengarahan atau sosialisasi. Saya tidak berminat. Teman satu bangku saya malah yang berminat masuk Akabri, ” lanjutnya.
Akhirnya sebut Patoppoi, rekannya itu daftarkan. Karena waktu itu belum lulus, maka dibuatlah surat keterangan belum lulus. Karena diuruskan oleh rekannya, akhirnya sama-sama lah mendaftar.
“Tapi pada saat tes kesehatan, teman saya itu tidak lulus. Malah saya yang lulus sampai pantohir. Tapi sampai Pantohir saya gagal. Itu tahun 1987 dan pertama mendaftar, ” sebutnya.
Karena gagal, Pattopoi kemudian kuliah waktu itu. Kuliah satu tahun. Pas semester 2, adalagi pendaftaran Akabri. Kemudian mendaftar lagi dengan rekannya. Tapi pas dites kesehatan temannya itu gugur lagi.
“Saya malah lulus sampai di Magelang tahun 1988. Disitu masih satu wadah TNI-Polri. Disitu ditunjuk dimana ke Angkatan Darat (AD), Angkatan Udara (AU), Angkatan Laut (AL) dan Polri,” ujarnya.
“Disitulah mulai awal karier di kepolisian. Disitu baru saya tahu dunia Akabri. 3 tahun tarunan dan 1 tahun perwira siswa. Kebetulan saya SMA jurusan IPS atau AK pada waktu itu, saya masuk polisi, ” tutupnya. (Jay)

