Menag Apresiasi Indeks Kerukunan Sulsel di Atas Rata-rata Nasional

Menag Apresiasi Indeks Kerukunan Sulsel di Atas Rata-rata Nasional

MAKASSAR, Upeks.co.id–Menteri Agama RI Jenderal (Purn) H. Fachrul Razi mengawali Serangkaian Kunjungan Kerja selama dua hari dan untuk Kali pertama ke Kota Makassar Sulsel semenjak dilantik menjadi Menteri di Kabiner Kerja Indonesia Maju Jokowi-Ma’ruf Amin dengan membuka Kegiatan yang bertajuk Pengembangan Wawasan Multikultural di Hotel Dalton Makassar, Selasa 3 Februari 2020.

Sebelumnya, Menag membuka Silaturahmi Nasional Mahasiswa Ahluth Thariqah Al Muktabarah An Nahdliyah (Silatnas MATAN) semalam yang dilangsungkan di Asrama Haji Sudiang Makassar, Senjn 2 Maret 2020.

Bacaan Lainnya

Tampak  hadir Hadir Wakil Gubernur Sulsel A. Sudirman Sulaiman, Walikota Makasssar, Rektor UIN Alauddin Makassar, Kepala Balitbang dan Badiklat Keagamaan Makasssar, Ketua dan Pengurus FKUB se-Sulsel, Pengurus Majelis Agama, Pejabat Eselon III dan IV lingkup Kemenag Sulsel khususnya Penyuluh Lintas Agama, PGMI serta AGPAI yang jumlahnya sekitar 250 orang.

Dalam arahannya, Menteri Agama RI Jenderal (Purn) H. Fachrul Razi mengatakan, Menteri Agama Republik Indonesia yang merawat atau mengkomunikasikan baik dengan semua agama yang ada di Indonesia yang diakui oleh UUD.

Keanekaragaman adalah warna Indonesia sejak dulu sudah ada, dan pada saat kita merebut kemerdekaan sudah seperti itu sehingga alangkah tidak baiknya setelah kita merdeka, pada saat kita hanya dituntur mengisi kemerdekaan kemudian kita mempersoalkan satu sama lain. Seolah-olah mengabaikan yang lebih kecil, kemudian yang lebih besar merasa paling hebat dan paling betul.

Saat ini Kementerian Agama mengembangkan sebuah definisi atau sebuah kosakata yang kita sebut dengan moderasi beragama dan moderasi beragama ini sudah dimasukkan ke dalam rencana jangka menengah pembangunan nasional ini.

“Moderasi Beragama ini merupakan cara kita beragama dalam kaitan bersosialisasi dengan umat umat agama lain atau dengan umat yang agama sama tapi berpandangan berbeda di internalnya, dan ini yang paling banyak menjadi pemicu konflik, baik skala internal maupun eksternal,” ungkapnya.

Terkait Sulsel, dirinya menyampaikan apresiasi dan terima kasih secara khusus kepada masyarakat dan umat beragama di Sulawesi Selatan yang telah membuktikan angkat Indeks Kerukunannya tinggi bahkan berada di atas rata-rata nasional.

“Semoga nilai dan capaian ini bisa diterus dipertahankan bahkan ditingkatkan, sehingga masyarakat Indonesia khususnya di Sulsel bisa menjalankan aktifitasnya dengan aman dan damai, yang outputnya tentu bermuara pada cita cita pendiri bangsa ini yakni mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rahyat Indonesia,” jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Wilayah Kakanwil Kemenag Sulsel H. Anwar Abubakar mengawali laporannnya dengan menghaturkan rasa terima kasihnya secara khusus kepada Menteri Agama, yang telah meluangkan waktunya hadir dan bersilaturahmi dengan masyarakat Sulsel, semoga kehadiran Beliau memdatangkan berkah bagi umat beragama dan masyarakat Sulsel.

Selanjutnya, Kakanwil juga melaporkan bahwa Indeks kerukunan Umat Beragama di Sulsel sebagaimana hasil penelitian menunjukkan nilai yang menggembirakan, bahkan angkanya berada diatas rata rata Nasional, hal ini menunjukkan kalau masyarakat dan umat beragama di Sulsel ini yang terdiri atas 24 kabupaten kota dan memiliki 4 suku dan etnis yang besar ada Suku Bugis Suku Makassar Mandar dan Toraja Alhamdulillah sangat Kondusif.

“Suasana kehidupan umat beragama yang ada di Sulawesi Selatan ini patut dan layak dijadikan sebagai salah satu provinsi yang dapat dijadikan sebagai laboratorium kerukunan hidup umat beragama di Indonesia,” ucapnya.Menag Apresiasi Indeks Kerukunan Sulsel di Atas Rata-rata Nasional

Sementra itu, Wakil Gubernur Sulsel H. A. Sudirman Sulaiman dalam sambutannya menyebutkan, bahwa indeks kerukunan Sulsel di atas rata-rata nasional ini berkat Komunikasi. Keakraban yang selama ini terjalin baik diantara kita semua khususnya Pemimpin dan Umat lintas agama, lintas suku. “Resepnya sudah ada sejak dahulu kala yang diwariskan oleh leluhur kita di Sulsel berupa nilai nilai lokalitas dan falsafah hidup seperti Sipakatau, Sipakainge’, Sipakalebbi dan sebagainya yang merupakan ajaran dasar dari sikap toleran dan saling menghormati antar sesama,” urainya.

Wagub menyatakan bahwa kita tidak pernah akan bermasalah bila perbedaan itu dipandang sebagai sesuatu yang tidak penting untuk selalu dibesar-besarkan, karena masalah perbedaan itu semakin dibahas malah semakin bermasalah, yang perlu kita bahas bersama saat ini adalah persamaan-persamaan yang menjadi pokok persoalan di tengah masyarakat. (rls)