Setengah Abad Profesi UNM, Sebuah Buku Menjaga Ingatan yang Tak Pernah Selesai

Setengah Abad Profesi UNM, Sebuah Buku Menjaga Ingatan yang Tak Pernah Selesai

Makassar, Upeks.co.id — Ada organisasi yang dikenang karena usianya. Ada pula yang dikenang karena orang-orang yang dibentuknya. Di usia 50 tahun, LPM Profesi UNM memilih merayakan sejarah dengan sebuah buku. Sebab berita boleh usang, tetapi ingatan tidak.

Lima puluh tahun bukan waktu yang pendek. Ia cukup panjang untuk melahirkan banyak wartawan, penulis, akademisi, birokrat, dan pemimpin. Namun bagi keluarga besar LPM Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM), perjalanan itu dimulai dari ruang redaksi yang sederhana, dari meja rapat yang sempit, dan dari keberanian menulis apa yang dianggap penting.

Bacaan Lainnya

Pada malam puncak Hari Lahir ke-50 di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Selasa (7/7/2026), LPM Profesi meluncurkan buku “Kita Pernah Tinggal di Dalam Berita”. Buku itu bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah rumah bagi kenangan yang selama ini hidup di kepala para alumninya.

Setiap halaman membawa kembali suara ruang redaksi. Tentang liputan yang dikejar hingga larut malam. Tentang naskah yang diperdebatkan. Tentang kritik yang ditulis dengan tanggung jawab. Dan tentang persahabatan yang tumbuh di antara tenggat waktu.

Ketua Panitia Harlah ke-50, Andi Mapassokko RD, mengatakan setengah abad adalah waktu untuk melihat ke belakang tanpa kehilangan arah ke depan.

“Setengah abad bukanlah waktu yang singkat. Ini adalah momentum refleksi, apresiasi, sekaligus perayaan atas dedikasi semua yang pernah membesarkan Profesi,” katanya.

Buku itu menjadi bukti bahwa sebuah organisasi tidak hanya hidup melalui kegiatannya. Ia hidup melalui orang-orang yang pernah dibentuknya. Banyak alumni kini bekerja di berbagai bidang. Namun mereka membawa bekal yang sama: disiplin berpikir, keberanian bertanya, dan kebiasaan mencari fakta.

Perayaan ini juga tidak berhenti pada nostalgia. Sejak Mei 2026, LPM Profesi menggelar berbagai kegiatan, termasuk lomba video opini bertema kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Tema itu dipilih karena dunia jurnalistik sedang berubah, dan mahasiswa harus belajar berjalan bersama perubahan tanpa kehilangan akal sehat.

Bagi Profesi, sejarah harus dirawat. Tetapi masa depan juga harus disiapkan.

Malam itu menjadi pertemuan lintas generasi. Alumni yang pernah berbagi meja redaksi kembali saling menyapa. Nama-nama seperti Benny Subiantoro, Ardhy M. Basir, Asia Ramli Prapanca, Anshari, Supriadi Torro, Sahril, Patri Jaladara, Faisal Palapa, Fachruddin Palapa, Rahman Pocing, Wahyudin, Syamsud, Uslimin, Agus, Suriama, Annisa Lachmuddin, Rusi Siri, Makmur Abdullah, Hasyim, Muh Aking, dan banyak senior lainnya kembali berkumpul.

Mereka datang bukan hanya untuk mengenang masa lalu. Mereka datang untuk memastikan api itu tetap menyala.

Karena berita memang selesai ketika dicetak. Tetapi nilai yang lahir dari proses membuat berita dapat bertahan jauh lebih lama. Itulah yang dirayakan LPM Profesi UNM pada usia ke-50: bukan sekadar perjalanan sebuah organisasi, melainkan perjalanan orang-orang yang pernah tinggal di dalam berita.(*)