BMKG Siap Perpanjang Modifikasi Cuaca Demi Lancarkan Evakuasi Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung

BMKG Siap Perpanjang Modifikasi Cuaca Demi Lancarkan Evakuasi Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung

MAROS, Upeks— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berencana melanjutkan operasi modifikasi cuaca dalam beberapa hari ke depan untuk mendukung proses evakuasi pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

Rencana tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Hasanuddin Makassar, Kukuh Ribudiyanto, usai menghadiri pertemuan bersama Basarnas dan Wakil Menteri Perhubungan Suntana di Kantor Basarnas Makassar, Rabu siang (21/1/2026).

Bacaan Lainnya

Kukuh menyebut, perpanjangan modifikasi cuaca dilakukan atas arahan Wamenhub. Namun, durasi pelaksanaannya belum dapat dipastikan.

“Dari arahan Pak Wamen memang ada rencana perpanjangan. Sampai kapan kami belum mengetahui. Pelaksanaan sebelumnya memang dilakukan sampai hari ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan BMKG, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat proses evakuasi oleh tim SAR.

Menurut Kukuh, BMKG mengikuti koordinasi bersama Indonesia Air Transport (IAT) terkait pelaksanaan modifikasi cuaca. Operasi yang sudah berjalan selama beberapa hari terakhir akan diperpanjang sesuai kebijakan dan kebutuhan di lapangan.

“Dalam beberapa hari ke depan hujan ringan hampir pasti terjadi, bahkan hujan lebat masih mungkin muncul. Kondisi ini cukup mengganggu evakuasi, sehingga modifikasi cuaca masih diperlukan,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya evakuasi yang dilakukan Basarnas, BMKG telah melaksanakan modifikasi cuaca selama dua hari terakhir di kawasan Gunung Bulusaraung.

Untuk pelaksanaannya, BMKG bekerja sama dengan Indonesia Air Transport (IAT) dan Basarnas, serta mendapat dukungan dari TNI Angkatan Udara melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kukuh memaparkan, strategi pertama dalam OMC dilakukan dengan membuyarkan kabut dan awan tipis di sekitar lokasi kejadian. Proses ini menggunakan kapur tohor yang berfungsi menyerap uap air sehingga jarak pandang di area evakuasi meningkat.

Strategi kedua dilakukan dengan menghujankan awan-awan masif di wilayah laut.

“Tujuannya agar hujan tidak turun di lokasi pencarian, sehingga tim SAR lebih mudah bekerja,” ujarnya.

BMKG memprediksi potensi hujan masih akan berlangsung hingga 24 Januari 2026. Intensitas hujan diperkirakan mulai menurun pada 25 Januari, meski hingga Sabtu mendatang wilayah tersebut masih berpeluang mengalami hujan lebat.(alf)